Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Jumat, 24 November 2017 | 07:19 WIB

Sevel Bangkrut, Larangan Minol Perlu Relaksasi?

Oleh : Uji sukma medianti | Senin, 10 Juli 2017 | 17:36 WIB
Sevel Bangkrut, Larangan Minol Perlu Relaksasi?
(Foto: Istimewa)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Sejak 30 Kuni 2017, seluruh gerai ritel modern yakni 7-eleven (Sevel) tutup. Perusahaan milik PT Modern International kolaps dengan utang Rp597 miliar.

Ketua Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo), Roy Mandey menuturkan, salah satu penyebab bangkrutnya gerai 7-eleven adalah larangan penjualan minuman beralkohol (minol). "Iya (regulasi). Tadinya ada tersedia di rak dan dilarang sehingga ini perllu dideregulasi lagi," terang Roy di Kementerian Perdagangan, Jakarta, Senin (10/7/2017).

Pada 2015, Menteri Perdagangan era Kabinet Kerja jilid 1, Rahmat Gobel mengeluarkan Permendag No 6 Tahun 2015 tentang Perubahan Kedua atas Permendag No 20 Tahun 2015 tentang Pengendalian dan Pengawasan terhadap Pengadaan, Peredaran, dan Perizinan Minuman Beralkohol.

Saat itu, Gobel menekankan alasan moral menjadi landasan utama terbitnya beleid itu. Roy mengatakan regulasi yang dikeluarkan Gobel perlu dideregulasikan lagi.

Roy mengatakan, untuk penjualan minuman beralkohol, pihaknya meminta adanya RUU namun sampai saat ini belum juga keluar. "(Untuk minuman beralkohol) ritel minta bukan pelarangan tapi pengawasan dan monitoring saja yang diperketat," jelas Roy.

Pihak Aprindo, kata Roy, berharap adanya relaksasi atas pelarangan penjualan minol. Sebab, pembelinya minol kebanyakan adalah kalangan ekspaktriat atau pekerja asing. "Diaspora ada yang konsumsi itu, sebaiknya jangan dilarang tapi diawasi," ujar Roy.

Roy menambahkan, pendapatan minuman beralkohol berkontribusi rata-rata 9% hingga 11% dari total pendapatan ritel. Jadi lumayan besar ya. [ipe]

Komentar

 
x