Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Jumat, 22 September 2017 | 18:52 WIB

INDEF: Harga Boleh Stabil, Daya Beli Tetap Jeblok

Oleh : - | Selasa, 11 Juli 2017 | 10:12 WIB
INDEF: Harga Boleh Stabil, Daya Beli Tetap Jeblok
Direktur Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Enny Sri Hartati - (Foto: inilahcom/Didik Setiawan)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Pemerintah boleh saja berbangga lantaran bisa menjaga stabilitas harga pangan. namun ada masalah serius yang terlupakan, daya beli rakyat makin tenggelam.

Direktur Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Enny Sri Hartati mengatakan, harga pangan selama Ramadan hingga Lebaran 2017, memang stabil. Namun, kondisi tersebut tak ada gunanya lantaran daya beli masyarakat anjlok tajam.

"Ketika dibandingkan dengan hasil evaluasi dari Pusat Informasi Harga Pangan Strategis di bawah Kementerian Perdagangan, harga pangan stabil, tapi stabil tinggi," ucap Enny di Kantor INDEF, Jakarta, Senin (10/7/2017).

Akibat melemahnya daya beli, kata Enny, harga pangan menjadi berada di atas harga acuan penjualan konsumen. Artinya, upaya menstabilkan harga, belum mampu memulihkan daya beli.

Berdasarkan hasil pemantauan Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) terhadap 160 pasar di Indonesia periode 9 September 2016 sampai 12 Juni 2017, harga sejumlah komoditas pangan masih cenderung tinggi.

Semisal, harga beras medium di pasar lebih mahal 17% dari harga acuan, harga gula pasir lebih mahal 10,1%, harga daging sapi kualitas 1 lebih mahal 47%, harga daging sapi kualitas 2 lebih mahal 37% dan harga minyak goreng curah lebih mahal 19% dari harga acuan.

Enny berpendapat, ketika harga komoditas pangan stabil dengan harga normal, seharusnya bisa mendorong naiknya daya beli masyarakat. Dengan demikian, porsi pendapatan masyarakat bisa dialokasikan lebih besar kepada sektor konsumsi.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), harga pangan menunjukkan deflasi, salah satunya terjadi di Jawa Timur. Namun, penjualan ritel di daerah tersebut, tidak menunjukkan angka yang positif.

Kata Enny, INDEF mencatat, pemerintah menggenjot anggaran signifikan untuk program swasembada padi, jagung, kedelai dan gula dalam tiga tahun. Kenaikan anggaran belanja untuk keempat komoditas tersebut sebesar 61,7% dari Rp40,2 triliun (2014) menjadi Rp65 triliun (2017).

Namun, tingginya alokasi anggaran tersebut ternyata dinilai belum optimal dalam mewujudkan kedaulatan pangan. [tar]

 
x