Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Sabtu, 19 Agustus 2017 | 20:11 WIB

Harap Tenang, Rasio Utang Jokowi Masih Aman

Oleh : M fadil djailani | Rabu, 12 Juli 2017 | 01:29 WIB
Harap Tenang, Rasio Utang Jokowi Masih Aman
Presiden Joko Widodo - (Foto: inilahcom/Agus Priatna)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Tim ekonomi Joko Widodo percaya diri bahwa utang luar negeri yang ditanggung negara masih aman. Apalagi utang tersebut digunakan untuk sektor produktif yakni pembangunan infrastruktur.

Dalam dua setengah tahun pemerintahan Jokowi, jumlah utang luar negeri mencapai Rp 3.672,43 triliun. Dengan rasio utang kurang dari 30% PDB (Produk Domestik Bruto).

"Pemerintah kan di dalam APBN, menjalankan APBN yang sifatnya defisit, artinya pengeluaran itu disetel untuk mendorong pengeluaran yang lebih tinggi karena kita bangun infrastruktur meningkatkan perlindungan sosial, sehingga kita jalankan anggaran yang sifatnya defisit. Defisit itu dibiayai, pembiayaan salah satunya lewat utang," kata Suahasil Nazara, Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan di Gedung DPR, Jakarta, Selasa (11/7/2017).

Suahasil bilang, utang RI masih aman jika mengacu kepada ketentuan undang-undang yang membatasi rasio utang maksimal 60% dari PDB. Saat ini, rasio utang berada di level 28% PDB.

"Masih 28 persen, jadi masih cukup jauh. Mari bandingkan dengan negara di sekitar kita. Misalnya, Malaysia dan Thailand sudah 40 hingga 50 persen, Jepang bahkan 200 persen dari PDB. Atau AS sekitar 100 peesen dari PDB," papar Suahasil.

"Jadi kalau diliat Indonesia 28 persen masih sangat aman, bisa dikendalikan. Apalagi ini terhadap PDB. PDB tiap tahun tumbuh. diproyeksikan di 2017 5,2 persen, berharap utang itu makin bisa kredibel dan dimanfaatkan," lanjut Suahasil.

Terkait kenaikan porsi utang luar negeri di di era Jokowi, dirinya menyebut hal yang wajar. Dana utangan tersebut dimanfaatkan untuk pembiayaan infrastruktur. Diharapkan bisa memberikan efek domino bagi bertumbuhnya investasi serta pertumbuhan ekonomi di daerah.

"Kalau dipakai buat infrastruktur kan nanti ada pengembalian dari infraatruktur itu yang akan buat utang suistanable bisa dibayar terus karena masyarakat bisa tumbuh terus, income-nya PDB naik terus dari PDB itulah ada penerimaan pemerintah, dan penerimaan dipakai untuk bayar utang," kata Suahasil.[ipe]

 
x