Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Selasa, 22 Agustus 2017 | 04:37 WIB

Adu Kuat PT IBU Vs Satgas Pangan, Siapa Menang?

Oleh : - | Jumat, 28 Juli 2017 | 08:09 WIB
Adu Kuat PT IBU Vs Satgas Pangan, Siapa Menang?
Pengamat pertanian Sutrisno Iwantono - (Foto: Istimewa)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Ini terkait dugaan kejahatan beras PT Indo Beras Utama (IBU) yang digarap Satgas Beras Mabes Polri. Apa kesalahan yang dilakukan PT IBU? Mungkinkah Polri salah jalan?

Pengamat pertanian Sutrisno Iwantono mengaku aneh bila pengusaha ataupun industri yang membeli beras dari petani dengan harga yang lebih tinggi, dianggap sebagai suatu kejahatan.

"Apa salah mereka? Justru hal itu yang harus dilakukan untuk meningkatkan kesejahteraan petani dan dapat memberi insentif bagi petani atau masyarakat agar mau berusahatani," kata Sutrisno di Jakarta, Kamis (27/7/2017).

Beberapa waktu lalu, gudang PT IBU di-police line Satgas Pangan Mabes Polri lantaran dugaan membeli beras petani dengan harga lebih tinggi, sehingga menghilangkan kesempatan pengusaha lain membeli beras petani.

Selain itu, Satgas Pangan Mabes Polri menduga adanya pemalsuan data kandungan gizi dalam produk beras premium yang dikeluarkan PT IBU. Hal itu diketahui setelah dilakukan uji laboratorium terhadap beras yang ada dalam kemasan.

Masih kata Sutrisno, pemerintah seharusnya justru mendukung agar beras petani dibeli dengan harga tinggi agar kesejahteraannya meningkat.

Selain itu, kata Sutrisno, jika produk pertanian, termasuk beras, memperoleh harga yang lebih layak maka akan memberikan insentif kepada masyarakat dan juga pengusaha lainnya untuk mau terjun ke usaha pertanian. Apalagi usaha pertanian termasuk yang mempunyai resiko cukup tinggi.

Sementara mengenai PT IBU yang menjual beras tersebut dengan harga tinggi, Iwantono mengatakan perlu juga dilihat upaya-upaya dan biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan terhadap beras tersebut agar menjadi beras yang mempunyai nilai lebih.

Selain itu, katanya, jika masyarakat ternyata puas dengan produk tersebut walaupun harganya mahal maka bukan pula suatu kesalahan. Jika ternyata harga produk yang dijual ternyata tidak sesuai dengan harapan konsumen maka tentu produk tidak akan laku. "Ini mekanisme pasar biasa," katanya.

Sementara untuk menjaga harga beras yang terjangkau masyarakat miskin, katanya, adalah tugas pemerintah melalui Bulog, yang menyediakan beras sejahtera (rastra). Perusahaan, katanya, akan salah jika membeli beras rastra yang disubsidi tersebut lalu menjualnya dengan harga tinggi. [tar]

 
x