Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Sabtu, 21 Oktober 2017 | 09:50 WIB

RI Jajaki Peluang Ekspor Anggota Colombo Plan

Oleh : - | Selasa, 1 Agustus 2017 | 03:29 WIB
RI Jajaki Peluang Ekspor Anggota Colombo Plan
(Foto: Inilahcom)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Pemerintah Indonesia ingin menggaet anggota Colombo Plan guna memperluas pasar ekspor bagi produk-produk unggulan Industri Kecil Menengah (IKM). Demi mengerek naik devisa negara.

Hal itu disampaikan Direktur jenderal IKM Kementerian Perindustrian, Gati Wibawaningsih saat membuka Program Kerja Sama Teknik Selatan-selatan dan Triangular (KSST) di DI Yogyakarta, Senin (31/7/2017). "Dalam kerja sama ini, kami memberikan pelatihan teknis kepada peserta mengenai pengembangan industri kecil dan menengah (IKM)," kata Gati.

Gati menjelaskan, upaya ini sekaligus menjadi ajang saling bertukar pengalaman dan informasi guna membuka kesempatan bermitra, di mana program pelatihan ini dapat terus memberikan kontribusi pada penguatan kerja sama Selatan-Selatan dan Triangular serta memperkuat persahabatan antara negara-negara Anggota Colombo Plan.

Kegiatan yang berlangsung 30 Juli-9 Agustus 2017, diikuti 22 pelaku IKM dari negara-negara anggota Colombo Plan, antara lain Indonesia, Bangladesh, Bhutan, Laos, Myanmar, Nepal, Sri Lanka, Afghanistan, Iran, Vietnam, Papua Nugini, dan Pakistan.

Selama program pelatihan, para peserta diberikan materi tentang pengembangan IKM di Indonesia dari berbagai aspek seperti kebijakan sektor IKM, peningkatan kapasitas melalui kerja sama internasional, pengembangan kawasan industri dan sentra IKM, pelaksanaan program One Village One Product (OVOP), serta penerapan kredit usaha sebagai akses pembiayaan untuk IKM.

Selama dua hari, peserta juga diajak melihat fasilitas litbang milik Kemenperin di Yogyakarta, yaitu Balai Besar Kulit Karet Plastik serta Balai Besar Kerajinan dan Batik. Di kedua tempat tersebut, peserta juga diberikan kesempatan untuk praktik langsung melalui "workshop" pembuatan produk kulit dan Batik khas Yogyakarta.

"Observasi dan diskusi mengenai pemberdayaan ekonomi masyarakat lokal juga menjadi agenda dalam program pelatihan ini," lanjut Gati.

Selama tiga hari, peserta akan melakukan kunjungan industri ke beberapa IKM yang memproduksi sarung tangan golf, alat mesin dan pertanian, produk kerajinan dari kulit, kerajinan anyaman rotan, makanan olahan ikan, Batik khas Yogyakarta peraih OVOP Bintang 5, serta kerajinan perak.

Selanjutnya, peserta dibawa ke beberapa lokasi wisata di Kota Gudeg, seperti berkunjung ke Keraton Yogyakarta dan menyaksikan Sendratari Ramayana di Candi Prambanan. "Di akhir pelatihan, peserta diminta membuat action plan yang dapat diimplementasikan untuk pemberdayaan IKM di negaranya masing-masing," ungkap Gati.

Indonesia mulai terlibat dalam kerja sama pembangunan internasional melalui Konferensi Asia Afrika yang pertama pada tahun 1955.

Kerja Sama Selatan Selatan dan Triangular (KSST) menjadi salah satu bentuk komitmen Indonesia dalam pembangunan internasional yang turut membantu negara-negara berkembang lainnya dengan cara berbagi pengetahuan melalui mekanisme bilateral atau triangular. [tar]

Komentar

 
x