Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Jumat, 15 Desember 2017 | 07:37 WIB

Revitalisasi Rusunawa, Prioritas Warga Tak Mampu

Oleh : - | Rabu, 2 Agustus 2017 | 15:38 WIB
Revitalisasi Rusunawa, Prioritas Warga Tak Mampu
(Foto: Inilahcom)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Revitalisasi rumah susun sewa sederhana (rusunawa) menjadi salah satu solusi dalam meningkatkan ketersediaan hunian terjangkau di Jakarta.

Demikian disampaikan Yayat Supriatna, pengamat perkotaan dari Universitas Trisakti kepada wartawan di Jakarta, Rabu (2/8/2017). "Dengan revitalisasi rusunawa, maka makin banyak warga yang tidak mampu akan tertampung," kata Yayat.

Menurut Yayat, penghuni rusunawa, selama ini diuntungkan, semestinya tidak mementingkan diri sendiri. "Masih banyak warga kurang mampu lainnya yang membutuhkan rusunawa. Bisa juga nantinya untuk memenuhi kebutuhan keluarga penghuni rusunawa sendiri, misalkan anaknya bisa menyewa di tempat yang baru, sehingga tidak tinggal berdesak-desakan di unit yang lama," kata Yayat.

Selain itu, lanjut Yayat, revitalisasi bertujuan meningkatkan kualitas bangunan rusunawa, sehingga penghuni pun akan merasakan hidup yang lebih baik. "Jangan sampai kualitas rusunawa, malah menurun menjadi kumuh. Berbahaya juga kalau suatu bangunan sudah terlalu lama digunakan. Mungkin tidak terlihat, namun sebenarnya kualitas bangunan sudah menurun dan berbahaya bagi penghuninya," kata Yayat.

Ditambahkan, penghuni lama pun dijamin akan kembali dan menempati bangunan baru dengan kualitas lebih baik, tanpa harus mengeluarkan biaya.

Terkait dengan penolakan penghuni untuk direlokasi sementara, pemilik rusunawa bisa melakukan komunikasi atau dialog dengan baik. "Apa-apa yang menjadi keberatan penghuni bisa dikomunikasikan dan dicari jalan keluarnya. Dari proses komunikasi itu juga bisa saja terungkap apakah penghuni keberatan karena bisnisnya, misalkan menyewakan lagi unit yang dimilikinya dengan harga jauh lebih tinggi, menjadi terganggu. Bukan rahasia lagi, sekarang ini ada istilah rusunawa rasa milik," kata Yayat.

Yayat mengatakan, penghuni mesti memahami bahwa status rusun adalah sewa, bukan hak milik. Suatu pembangunan bertujuan membuat masyarakat menjadi lebih baik dan tidak untuk mempersulit warga. "Warga harus bersiap-siap dengan perubahan ke depan. Perubahan adalah suatu keniscayaan yang tidak bisa kita tolak," kata Yayat.

Dirinya mencontohkan, angkutan umum seperti busway yang sudah memakai kartu. "Kalau tidak punya kartu ya tidak bisa pakai busway," kata Yayat.

Sementara, Direktur Eksekutif Housing Resource Center (HRC) Mahditia Paramita mengatakan, revitalisasi rusunawa bisa menjadi salah satu solusi mengatasi keterbatasan hunian di DKI Jakarta.

"Solusi lainnya seperti program-program rumah sewa lain yang solutif untuk memperbanyak stok dan mengatasi keterjangkauan warga. Rumah sewa sebagai transisi menuju rumah milik," kata Mahditia.

Sedangkan, untuk menyelesaikan adanya penolakan penghuni rusunawa, menurut dia, perlu dilakukan pengkajian kontraknya serta hak dan kewajiban yang ada di dalamnya. "Lalu, perlu melakukan pertemuan dengan warga untuk rencana aksi revitalisasi itu," ujar Mahditia.

Seperti diketahui, rusunawa Dahlia di Cengkareng, Jakarta Barat, merupakan salah satu rusunawa yang saat ini memerlukan peremajaan mengingat kondisi struktur bangunan yang dinilai sudah tak layak huni.

Sementara, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat menargetkan pembangunan 112.992 rumah di 2016. Terdiri dari 11.642 rumah susun, 6.350 rumah khusus, dan 95.000 rumah swadaya. [tar]

Komentar

 
x