Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Sabtu, 21 Oktober 2017 | 09:58 WIB

Niat Datangi Kemendag, APTR Minta HET Gula Naik

Oleh : - | Kamis, 3 Agustus 2017 | 05:09 WIB
Niat Datangi Kemendag, APTR Minta HET Gula Naik
(Foto: inilahcom)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Andalan Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) akan mendatangi Kementerian Perdagangan guna mempertanyakan kebijakan harga eceran tertinggi (HET) gula Rp12.500/Kg. Aturan ini merugikan petani tebu.

"Kami mendesak pemerintah, yakni Kementerian Perdagangan (Kemdag), untuk membenahi aturan tentang tata niaga gula di Indonesia. HET yang ditetapkan sebesar Rp 12.500/kg sangat merugikan petani," ujar Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional (DPN) APTRI, Soemitro Samadikoen dalam siaran pers di Jakarta, Rabu (2/8/2017).

Dalam Permendag Nomor: 27/M-DAG/PER/5/2017, menetapkan harga acuan gula tani (HPP) Rp9.100/Kg dan HET gula ditingkat konsumen Rp12.500/Kg.

Soemitro mengatakan, dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) APTRI pada 20 - 21 Juli 2017 telah dikeluarkan rekomendasi untuk meminta Menteri Perdagangan menaikkan HPP gula tani menjadi Rp11.000/Kg dibanding aturan dalam Peraturan Menteri Perdagangan Rp9.100/Kg.

Pihak APTR juga meminta agar kemendag menaikkan HET gula menjadi sebesar Rp14.000 per kilogram dari aturan saat ini, sebesar Rp12.500 per kilogram. "Angka kenaikan yang kami ajukan ini sangat wajar. Sebab petani perlu mendapat keuntungan dari usaha tani tebu selama setahun. Di pihak pedagang juga untung dan juga tidak memberatkan kepada konsumen," ujar Soemitro.

Ia menyebutkan, pada 11 April 2017, DPN APTRI telah melayangkan surat kepada Mendag dan mengusulkan agar HPP gula petani musim giling 2017 sebesar Rp11.76 per kg. Usulan tersebut didasarkan atas besaran biaya pokok produksi (BPP) sebesar Rp 10.600/kg dengan asumsi produksi tebu pada tanaman plant cane 100 ton/ha dan rendemen 7,5 persen, sedangkan pada tanaman ratoon produksi tebu 90 ton/hektare dengan rendemen 7 persen.

Dijelaskan, BPP tersebut telah memperhitungkan biaya bibit, pupuk, traktor, dan kenaikan biaya produksi. Kenaikan biaya produksi itu, antara lain biaya garap, upah tenaga kerja, dan biaya tebang angkut akibat kenaikan harga BBM.

Sementara itu, Sekjen DPN APTRI Nur Khabsyin menegaskan, pada dasarnya kebijakan penetapan harga acuan atau HET gula tidak tepat, karena gula (termasuk gula tani) tidak termasuk barang yang mendapatkan subsidi dari pemerintah. "Oleh karenanya, pemerintah tidak boleh menekan harga pasar," tuturnya.

Menurut Khabsyin, jika ingin gula murah untuk rakyat, maka pemerintah harus mensubsidi harga sebagaimana yang dilakukan pada HET pupuk. Dengan adanya HET gula berarti petani tebu yang justru mensubsidi harga gula kepada rakyat.

"Semestinya, pemerintah cukup menetapkan HPP gula tani sebagai harga dasar perhitungan di dalam usaha tani tebu. Makanya, kami meminta Mendag agar mau berdiskusi dan menerima kami untuk beraudiensi. Biar masalahnya menjadi terang," kata Khabsyin.[tar]

Komentar

 
x