Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Selasa, 24 Oktober 2017 | 14:43 WIB

Daya Beli Anjlok, Target Ekonomi Dalam Ancaman

Oleh : Mohammad Fadil Djailani | Kamis, 3 Agustus 2017 | 15:09 WIB
Daya Beli Anjlok, Target Ekonomi Dalam Ancaman
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Penurunan daya beli masyarakat di semester I-2017, benar-benar mengkhawatirkan. Jika terus berlanjut bisa memengaruhi target pertumbuhan ekonomi yang dipatok 5,2%.

Namun, pemerintah mengklaim tak ada persoalan terkait daya beli masyarakat. Menurut dia, jika dilihat dari data penjualan beberapa sektor ritel sepanjang semester ini, malah terjadi kenaikan dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Seperti terlihat dari perolehan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) pada semester pertama yang naik hingga 13,5% (year on year). Yang mengindikasikan adanya transaksi jual beli di masyarakat. Benarkah?

Menanggapi hal ini ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Bhima Yudhistira Adhinegara mengatakan hal tersebut bukan jadi patokannya, menurutnya naiknya perolehan pajak PPN merupakan hasil dari program tax amnesty atau pengampunan pajak.

"Itu sebenarnya bukan karena transaksinya naik itu harus hati-hati lho, tapi karena sebagian masayarakat sudah tertib administrasi pajak karena program tax amnesty,'' ujar Bhima kepada INILAHCOM di Jakarta, Kamis (3/8/2017).

Bhima membantah klaim pemerintah yang mengatakan tren belanja masyarakat, saat ini, sudah berubah dari konvensional ke online. Artinya, transaksi penjualan tetap ada, sehingga daya beli masih terjaga. "Ini juga bukan jadi patokan karena memang share belanja online di Indonesia baru sekitar 0.7% terhadap penjualan ritel nasional, kurang dari 1%, " katanya.

Bhima menyebutkan, daya beli yang lesu berkaitan dengan tingginya inflasi harga yang diatur pemerintah terutama listrik dan air sejak awal 2017. Menurutnya, justru komponen tersebut menjadi faktor utama yang menggerus daya beli masyarakat.

"Di sisi lain, pendapatan masyarakat cenderung turun. Dilihat momen Lebaran juga masyarakat lebih menahan belanja. Kondisinya nyaris sama dengan 2008 lalu," jelas Bhima.

Bhima melanjutkan, lemahnya daya beli masyarakat tentu mengusik perhatian pemerintah lantaran 57% ekonomi Indonesia ditopang konsumsi rumah tangga.

Dirinya bahkan tak segan menyebut kondisi saat ini merupakan 'alarm bahaya' bagi pemerintah. Pelemahan konsumsi rumah tangga bisa menjadi ganjalan bagi pemerintah dalam mencapai target pertumbuhan ekonomi 5,2% pada 2017i. [fdl]

Komentar

 
Embed Widget

x