Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Senin, 25 September 2017 | 17:00 WIB

Subsidi BBM untuk Nelayan Bocor, Bukannya Diusut

Oleh : - | Kamis, 3 Agustus 2017 | 15:50 WIB
Subsidi BBM untuk Nelayan Bocor, Bukannya Diusut
(Foto: Inilahcom)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) mendesak pemerintah mengusut tuntas penyalahgunaan penggunaan BBM bersubsidi untuk nelayan.

Ketua DPP KNTI Marthin Hadiwinata menilai, wacana pencabutan subsidi BBM kepada nelayan, bukan solusi masalah penyalahgunaaan BBM bersubsidi oleh industri dan perusahaan skala besar. "Masalah terhadap penyalahgunaan BBM subsidi, maka pemerintah harusnya melakukan langkah strategis dengan mengusut pelaku dan menggugat kerugian negara yang dicaplok," tegas Marthin.

Marthin mengingatkan, jika subsidi BBM untuk nelayan dicabut samahalnya mempersulit kehidupan ekonomi keluarga. Karena, 70% biaya operasional nelayan dikeluarkan untuk BBM.

Marthin memaparkan, berdasarkan info dari KNTI Sumatera Utara, permasalahan distribusi BBM bersubsidi karena kerap diselewengkan oleh distributor di lapangan bahkan Solar Pack Dealer Nelayan (SPDN) yang ada mangkrak.

Sedangkan informasi dari KNTI Lombok Timur (NTB) menyatakan nelayan ada yang dapat mengakses BBM subsidi dengan mudah karena akses terhadap BBM berada di lokasi tempat pelelangan ikan, namun di tempat lain kesulitan untuk mendapatkan BBM bersubsidi.

Sementara, informasi dari KNTI Kendal (Jateng) mengingatkan, selain memberatkan nelayan, persoalan seperti alih alat tangkap hingga kini juga belum dituntaskan sepenuhnya.

Sebelumnya, KKP bersama Kementerian ESDM dinilai perlu berkolaborasi bersama guna memperbaiki penyaluran BBM subsidi bagi para nelayan di berbagai daerah.

"KKP harus berkoordinasi dengan Kementerian ESDM untuk segera memperbaiki tata kelola penyediaan hingga penyaluran hingga penyaluran BBM subsidi bagi nelayan kecil," kata Sekjen Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (Kiara), Susan Herawati.

Menurut dia, langkah yang perlu dilakukan pertama adalah mengkaji kembali Peraturan Menteri ESDM No 6/2014 yang kerap dijadikan celah bagi pengusaha perikanan untuk menggunakan solar subsidi guna industrinya.

Selain itu, Kiara juga menyatakan agar dikeluarkannya regulasi yang tegas bahwa penyediaan dan distribusi solar subsidi hanya bagi kapal dengan ukuran 10 GT ke bawah.

Kemudian, KKP-Kementerian ESDM juga diharapkan dapat membangun parasaran pengisian bahan bakar di wilayah nelayan kecil sesuai dengan mandat UU No 7/2016. "UU No 7 Tahun 2016 telah memandatkan kepada pemerintah segera memberikan perlindungan dan pemberdayaan khususnya bagi nelayan kecil dalam penyediaan prasarana dan sarana yang dibutuhkan guna mengembangkan usaha dan memberikan kepastian usaha yang berkelanjutan," ucap Susan. [tar]

 
x