Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Sabtu, 19 Agustus 2017 | 20:13 WIB

Ritel Lesu, Benarkah Karena E-Commerce?

Oleh : M Fadhil Djaelani | Jumat, 4 Agustus 2017 | 17:25 WIB
Ritel Lesu, Benarkah Karena E-Commerce?
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy Mandey - (Foto: Istimewa)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Sepanjang semester I 2017 rata-rata penjualan dan keuntungan sektor ritel anjlok, membuat pengusaha kian galau. Benarkah karena e-commerce?

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo), Roy Mandey mencontohkan rata-rata penjualan di toko ritel seperti Alfamart dan Indomaret makin anjlok diparuh pertama tahun 2017. "Situasi itu yang membuat setiap peritel di Indonesia dalam kondisi terpuruk," kata Roy kepada INILAHCOM, di Jakarta, Jumat (4/8/2017).

Selama 2,5 tahun ini, kata Roy, kinerja perusahaan ritel banyak yang berada di bawah performa,dimana, banyak barang yang tak laku, sehingga perputaran bisnis tersendat. "Kondisi ritel saat ini sudah 2,5 tahununderperformance," ujarnya.

Lesunya penjualan ritel kata Roy tidak lepas dari tumbuh suburnya industrie-commerceseiring atau penjualan dengan sistem online.

Kemudahan yang ditawarkan bisnis online tersebut membuat masyarakat lebih senang berbelanja di dunia maya. Alasannya, tanpa harus mengeluarkan dompet, mengantri di kasir hingga bayar parkiran. "Karena sudah banyak kemudahan-kemudahan sekarang ini. Perkembangan zaman, beli barang cukup dengan telepon, tanpa perlu antri, parkir," katanya.

Roy pun berharap bahwa kondisi ini cepat selesai dan pemerintah segara mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang ampuh, sehingga menggairahkan kembali bisnis ritel nasional.

Sebelumnya, Menko Perekonomian Darmin Nasution membantah pandangan sejumlah ekonom tentang pelemahan daya beli dalam beberapa bulan terakhir ini. "Barangkali kalau ngomong daya beli menurun itu dari mana indikasinya? Paling orang bilang, pertumbuhan ritelnya mengecil, gitu kan? Itu karena diukur pada Juni. Bulan Juni itu Lebaran," kata Darmin.

Darmin mengatakan, umumnya di setiap bulan lebaran terjadi perlambatan kenaikan konsumsi, karena orang habis-habisan membelanjakan duitnya saat Bulan Puasa hingga Lebaran.

Bahkan, lanjut mantan Gubernur Bank Indonesia (BI), pada Juli 2016 merupakan masa Lebaran. "Coba lihat datanya, melambat. Saya tidak bermaksud mengatakan, oh tidak benar itu perlambatan. Tapi tunggu saja dulu datanya keluar yang bulan Juli, paling-paling seminggu lagi keluar," kata Darmin.

Darmin juga membantah jika hal itu terkait dengan inflasi yang dianggap terlampau lemah beberapa waktu lalu. "Apa kaitannya? Sehabis lebaran inflasi itu turun. Sama saja dua-duanya. Karena apa? Satu, orang pada ngurangin belanjanya. Kedua, karena Juli itu mau masuk sekolah, orang mulai tahan duitnya dulu, karena pada mau belanja untuk sekolah anaknya, mau belanja alat sekolah," kata Darmin.

Oleh karena itu, ia menegaskan pemerintah tidak mengkhawatirkan isu penurunan daya beli tersebut. "Kenapa mesti ada rasa khawatir sih? Itu susah itu. Tunggu saja seminggu, nanti kesimpulannya biar jelas," kata Darmin. [uji]

 
x