Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Jumat, 24 November 2017 | 23:31 WIB

Industri Pupuk Menguat, Pusri 2B Siap Operasi

Oleh : - | Jumat, 4 Agustus 2017 | 17:09 WIB
Industri Pupuk Menguat, Pusri 2B Siap Operasi
(Foto: Istimewa)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Pembangunan pabrik pupuk Pusri 2B, anak anak usaha PT Pupuk Indonesia (Persero) sudah rampung dan siap operasi bulan depan.

"Saat ini, pembangunannya telah rampung. Pabrik berkapasitas 907 ribu ton urea per tahun, dan 660 Ribu ton amoniak per tahun, sudah mulai produksi," papar Aas Asikin Idat, Direktur Utama PT Pupuk Indonesia (Persero) saat mendampingi kunjungan kerja Menteri BUMN Rini Soemarno ke Pabrik Pupuk Sriwidjaja, Palembang, Sumatera Selatan, Jumat (4/8/2017).

"Pada 30 September 2016 pabrik pupuk Pusri 2B ini, sudah produksi urea. Dilanjutkan dengan first drop amoniak pada 3 November 2016," lanjut Aas dalam rilis kepada media.

Pembangunan Pusri 2B ini, kata Aas, merupakan upaya perusahaan dalam meningkatkan efisiensi, serta menjaga daya saing dan kehandalan pasokan pupuk urea untuk wilayah Sumatera dan sebagian Jawa. Sehingga bisa menunjang program pemerintah dalam mewujudkan ketahanan pangan. "Menteri BUMN juga sudah mengusulkan kepada Presiden Jokowi untuk dapat meresmikan proyek ini," kata Aas.

Menurut Aas, pabrik Pusri 2B diproyeksikan untukmenggantikan Pusri 2 yang umurnya sudah di atas 40 tahun, serta boros konsumsi gas 38,16 MMBTU/ton. Sementara pabrik Pusri 2B lebih irit gas yakni sebesar 24,25 MMBTU/ton.

Karena Pusri 2B menerapkan teknologi baru sehingga bisa menghemat bahan baku gas alam. Pabrik Pusri 2B akan menghemat pemakaian gas hingga 14 MMBTU per ton urea. Yang berdampak kepada penurunan harga pokok produksi, agar dapat bersaing dengan pupuk produksi luar negeri.

Aas menambahkan, dalam menghadapi persaingan bisnis yang semakin ketat, Pupuk Indonesia melakukan sejumlah langkah untuk meningkatkan daya saing perusahaan, melalui sejumlah program revitalisasi pabrik pupuk. "Pupuk Indonesia Group telah melakukan berbagai proyek pengembangan dan melakukan revitalisasi, yaitu mengganti pabrik yang sudah tua dengan pabrik yang lebih canggih dan hemat konsumsi gasnya. Sejauh ini, sudah tiga proyek besar yang dilaksanakan Pupuk Indonesia," ujar Aas.

Selain Pusri 2B di Palembang, pemerintah membangun Amurea 2 di Petrokimia Gresik. Pabrik ini akan menambah kapasitas produksi Petrokimia Gresik sehingga dapat mencukupi kebutuhan pasar di Jawa Timur yang memang merupakan konsumen urea terbesar di Indonesia.

Di mana, kapasitas produksi Amurea 2 sebesar 570ribu ton urea per tahun dan 660ribu ton per tahun amoniak. Sebelumnya, pabrik Kaltim-5, milik Pupuk Kaltim yang berlokasi di Bontang, telah selesai dibangun dan beroperasi secara komersial sejak November 2015. Pabrik ini berkapasitas produksi 1,15 juta ton urea dan 825 ribu ton amoniak per tahun.

Pabrik ini dibangun untuk menggantikan pabrik Kaltim-1. Konsumsi gas pabrik urea terbesar di Asia Tenggara ini, hanya 25 MMBTU/ton. Bandingkan dengan pendahulunya, Kaltim-1, konsumsi gasnya mencapai 37,82 MMBTU/ton.

Selain meningkatkan efisiensi melalui revitalisasi, Pupuk Indonesia juga akan mulai merambah bisnis petrokimia lainnya yang memiliki nilai tambah yang lebih tinggi dibandingkan urea.

Saat ini, Pupuk Indonesia tengah menjajaki kemungkinan pengembangan produk petrokimia di Bintuni seperti methanol, ethylene, dan lain sebagainya.

Kemudian perusahaan akan beralih pada pengembangan kapasitas pupuk NPK. Pupuk jenis ini, terbukti lebih mampu meningkatkan produktivitas tanaman pangan, karena mengandung unsur hara yang lebih lengkap. [ipe]


Komentar

 
x