Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Selasa, 24 Oktober 2017 | 14:44 WIB

Benarkah Daya Beli Sedang Lesu? Bos BI Setuju

Oleh : M Fadil Djailani | Sabtu, 5 Agustus 2017 | 04:29 WIB
Benarkah Daya Beli Sedang Lesu? Bos BI Setuju
Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo - (Foto: Inilahcom/M Fadil Djaelani)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Lemahnya daya beli masyarakat selama semester I 2017 ini, diamini Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo.

Agus bilang, permintaan atau konsumsi masyarakat, memang turun."Permintaan masyarakat agak lemah dan diharapkan akan membaik semester II ini," kata Agus di Gedung BI, Jakarta, Jumat (4/8/2017).

Menurut mantan Menteri Keuangan era SBY ini, salah satu faktor adalah masih adanya tahap konsolidasi dari berbagai lini korporasi di dalam negeri. Alhasil, pendapatan masyarakat belum bergerak naik, malah ada yang
turun.

Meski begitu dirinya tetap optimistis bahwa kondisi ekonomi Indonesia masih cukup baik dan dalam tren yang cukup positif. Dia meyakini pelemahan daya beli tidak akan mempengaruhi target pertumbuhan ekonomi. "Proyeksi pertumbuhan ekonomi BI masih sesuai dengan target yakni 5%-5,4% hingga akhir tahun," kata Agus.

"Kita pahami indikator ekonomi kita masih baik, bahkan inflasi kalau dilihat data terakhir pada Juli 0,22% dan itu bisa dikatakan ini adalah kondisi inflasi setelah lebaran yang paling rendah," lanjut Agus.

Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy Mandey mengatakan, saat ini, pengusaha makin 'galau'. Ya, lantaran sepanjang semester I- 2017, rata-rata penjualan dan keuntungan anjlok signifikan.

Kata Roy, dalam kurun 2,5 tahun ini, rata-rata penjualan di toko ritel, menurun performanya. "Situasi itu yang membuat setiap peritel di Indonesia dalam kondisi terpuruk," kata Roy kepada INILAHCOM.

Lesunya penjualan ritel, kata Roy tak lepas dari tumbuh suburnya industri e-commerce. Dengan kata lain tergerus penjualan sistem online.

Suka atau tidak, perdagangan online menawarkan sejumlah kemudahan bagi konsumen. Di mana, mereka tak perlu khawatir macet atau berkeringat karena harus menuju mal atau pusat perbelanjaan. Belum lagi kena biaya parkir kendaraan pribadi.

"Karena sudah banyak kemudahan-kemudahan sekarang ini. Perkembangan zaman, beli barang cukup dengan telepon, tanpa perlu antre, parkir," kata Roy.

Roy berharap, kondisi ini, bisa cepat selesai dan pemerintah segera mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang ampuh. Agar bisnis ritel di tanah air bisa kembali bergairah.

Sebelumnya, Menko Perekonomian Darmin Nasution membantah pandangan sejumlah ekonom tentang pelemahan daya beli dalam beberapa bulan terakhir ini. "Barangkali kalau ngomong daya beli menurun itu dari mana indikasinya? Paling orang bilang, pertumbuhan ritelnya mengecil, gitu kan? Itu karena diukur pada Juni. Bulan Juni itu Lebaran," kata Darmin.

Darmin mengatakan, umumnya di setiap bulan lebaran terjadi perlambatan kenaikan konsumsi, karena orang habis-habisan membelanjakan duitnya saat Bulan Puasa hingga Lebaran.

Bahkan, lanjut mantan Gubernur Bank Indonesia (BI), pada Juli 2016 merupakan masa Lebaran. "Coba lihat datanya, melambat. Saya tidak bermaksud mengatakan, oh tidak benar itu perlambatan. Tapi tunggu saja dulu datanya keluar yang bulan Juli, paling-paling seminggu lagi keluar," kata Darmin.

Darmin juga membantah jika hal itu terkait dengan inflasi yang dianggap terlampau lemah beberapa waktu lalu. "Apa kaitannya? Sehabis lebaran inflasi itu turun. Sama saja dua-duanya. Karena apa? Satu, orang pada ngurangin belanjanya. Kedua, karena Juli itu mau masuk sekolah, orang mulai tahan duitnya dulu, karena pada mau belanja untuk sekolah anaknya, mau belanja alat sekolah," kata Darmin.

Oleh karena itu, ia menegaskan pemerintah tidak mengkhawatirkan isu penurunan daya beli tersebut. "Kenapa mesti ada rasa khawatir sih? Itu susah itu. Tunggu saja seminggu, nanti kesimpulannya biar jelas," kata Darmin. [ipe]

Komentar

 
x