Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Selasa, 24 Oktober 2017 | 14:44 WIB

Peneliti INDEF Buka Data Kegagalan Tim Ekonomi

Oleh : M Fadil Djailani | Senin, 7 Agustus 2017 | 04:29 WIB
Peneliti INDEF Buka Data Kegagalan Tim Ekonomi
Peneliti Senior Institute Development of Economics and Finance (Indef) Prof Didik J Rachbini - (Foto: Inilahcom)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Tak sedang bercanda, Peneliti Senior Institute Development of Economics and Finance (Indef) Prof Didik J Rachbini, memaparkan jebloknya ekonomi. Bukti kegagalan tim ekonomi Presiden Joko Widodo.

"Pertanyaannya apakah daya beli turun atau tidak? Saya ingin tunjukan data-datanya. Ini data Badan Pusat Statistik (BPS). Tapi yang pasti sudah 3 tahun ini, ekonomi stagnant," kata Prof Didik dalam sebuah diskusi di kawasan Menteng, Jakarta, Sabtu (5/8/2017).

Data pertama yang ditunjukan Didik adalah sektor penjualan ritel. Di mana, sejak awal tahun ini hingga pertengahan, bisnis ini lesu dan tak bergairah. "Penjualan ritel pada tahun lalu itu masih 16,3%. Memang relatif tinggi. Nah, sekarang pada April, Mei, Juni hanya tumbuh 3% sampai 4%," kata mantan Anggota DPR asal PAN ini.

Tak hanya sektor ritel, pria berdarah Madura ini menyebut, penjualan motor yang bernasib serupa. Di mana, pertumbuhannya justru minus. "Sekarang lihat saja penjualan motor, penjulan motor minus 13%, motor tidak beli di online, tapi tergerus dibandingakan periode yang sama tahun lalu," papar Didik.

Sektor kredit, lanjut Didik, sami mawon. Di mana, pertumbuhannya hanya sekitar 7%-8%. Padahal, tahun-tahun sebelumnya mampu bertumbuh hingga double digit. "Kredit investasi sekarang hanya sekitar 7% di perbankan, data kredit turun menjadi singel digit, ini kondisi yang bahaya," ujarnya.

Tak sampai disitu, Prof Didik juga memperlihatkan data tentang penjualan listrik yang juga tak bagus. Dia bilang, penjualan setrum hanya tumbuh sekitar 1%.

"Sektor ekonomi mana yang tidak pakai listrik, semuanya pakai tapi kita pertumbuhan listrik pada tahun ini hanya sekitar 1%, padahal tahun-tahun sebelumnya tumbuh 8% sampai 9%, banyak orang yang berhemat" kata Didik. [ipe]

Komentar

 
Embed Widget

x