Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Senin, 25 September 2017 | 16:59 WIB

BI: Utang Indonesia Belum Lampu Merah

Oleh : - | Senin, 7 Agustus 2017 | 16:17 WIB
BI: Utang Indonesia Belum Lampu Merah
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI), Mirza Adityaswara
facebook twitter

INILAHCOM, Padang - Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI), Mirza Adityaswara bilang, utang luar negeri (ULN), saat ini, masih dalam level sangat sehat.

"Saat ini utang pemerintah 28 persen dari Pendapatan Domestik Bruto, artinya masih sehat," kata Mirza di Padang, Sumatera Barat, Senin (7/8/2017).

Kata Mirza, ULN pemerintah bukan tidak ada batasnya. Porsinya dibatasi melalui UU Keuangan Negara. Pembatasan ini penting agar krisis moneter 1998 tidak terulang. "Batas utang pemerintah itu adalah 60 persen dari ekonomi Indonesia yang diukur dari Pendapatan domestik Bruto (PDB)," ujar Mirza.

Ia menjelaskan angka 60 persen tersebut muncul mengacu kepada aturan internasional yang dipakai oleh Eropa. Di mana, sejumlah negara malah utangnya di atas 100% dari Pendapatan Domestik Bruto, seperti utang Jepang mencapai 100% dari PDB."Bahkan Amerika Serikat saat ini utangnya juga 100 persen dari PDB," ujar Mirza.

Oleh sebab itu kata dia, kalau ada informasi yang beredar di media sosial utang pemerintah besar maka harus ada pembandingnya.

"Kalau dibilang utang pemerintah meningkat iya sejak dulu terus naik sejak Soeharto sampai Jokowi, tetapi melihat sehat atau tidak harus ada pembandingnya yaitu ukuran ekonomi," katanya.

Ia memberi ilustrasi jika seseorang punya gaji Rp1 juta per bulan tentu boleh berutang Rp280 ribu rupiah karena dari sisi ilmu keuangan pasti mampu membayarnya. "Tapi kalau ada orang gaji Rp1 juta namun utangnya Rp40 juta artinya itu sangat tidak sehat," ujarnya.

Ia menyampaikan sama secara prinsip utang dibolehkan namun jangan terlalu besar dan punya kemampuan membayarnya. "Rumah tangga boleh punya utang kredit perumahan dan kendaraan, tapi bisa membayar, demikian juga negara," kata Mirza.

Ya, kecil dan besar utang, tetap saja utang. Harus dibayar. Uangnya dari mana? Jelaslah dari pajak yang notabene jerih payah rakyat. [tar]

 
x