Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Sabtu, 19 Agustus 2017 | 20:10 WIB

Cetak Pengusaha, Kemenperin Blusukan ke Ponpes

Oleh : M Fadil Djailani | Selasa, 8 Agustus 2017 | 10:11 WIB
Cetak Pengusaha, Kemenperin Blusukan ke Ponpes
Santri Pesantren - (Foto: Istimewa)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Kementerian Perindustrian rajin blusukan ke lingkungan pondok pesantren (ponpes) guna melahirkan wirausaha muda, melalui program Santripreneur.

Direktur Jenderal IKM, Kemenperin, Gati Wibawaningsih mengatakan, program Santripreneur dimaksudkan agar lulusan pondok pesantren (ponpes) dapat turut mendorong penumbuhan industri kecil dan menengah (IKM).

"Selama ini, setiap tahunnya kami telah melaksanakan berbagai program pemberdayaan ekonomi masyarakat khususnya pada pengembangan IKM di lembaga pendidikan keagamaan termasuk pondok pesantren," kata Gati dalam keterangannya saat kunjungan kerja di Pondok Pesantren Sunan Drajat, Lamongan, Jawa Timur, Senin (7/8/2017).

Selama 2013-2015, kata Gati, Ditjen IKM telah membina lima pondok pesantren di empat wilayah, yakni Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, Kab. Garut, Jawa Barat, Kab. Tasikmalaya, Jawa Barat dan Kab. Pacitan, Jawa Timur. Jumlah keseluruhan peserta yang mengikuti program ini mencapai 105 santri. mereka mendapatkan pelatihan dan peningkatan keterampilan di bidang konveksi dan kerajinan batu akik.

Gati menyampaikan, Pondok Pesantren Sunan Drajat merupakan salah satu lokasi pilot project yang dilaksanakan Kemenperin dalam menjalankan program Santripreneur pada tahun 2017. "Kami yakin program ini mampu mendukung pemerataan ekonomi nasional, karena jumlah pondok pesantren di Indonesia sangat banyak," ujarnya.

Berdasarkan data Kementerian Agama, pada 2014, pondok pesantren yang ada di Indonesia sebanyak 27.290 lembaga dengan jumlah santri mencapai 3,65 juta orang. Sementara, jumlah santri di Pondok Pesantren Sunan Drajat mencapai 12 ribu orang (5.500 putra dan 6.500 putri) dengan tenaga pendidik 1.041 orang.

Gati menjelaskan, kemepnerin akan mendidik dan membina sekitar 10 orang santri terpilih untuk mengikuti pelatihan dan pendampingan di bidang pengolahan ikan. Selain itu, Ditjen IKM akan memfasilitasi pemberian bantuan mesin dan peralatan yang bakal diserahkan kepada pihak pondok pesantren melalui mekanisme hibah ke Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kab. Lamongan.

"Kami pun sedang menjajaki kerja sama dengan Bank Indonesia wilayah Jawa Timur, yang nantinya dituangkan ke dalam Perjanjian Kerja Sama terkait skema pilot project Santripreneur tahun 2017," ungkapnya.
Menurut Gati, Bank Indonesia wilayah Jawa Timur telah memiliki program Inkubator Bisnis Pesantren dan berkomitmen akan membentuk Baitul Mal Wattamwil (BMT).

"Kami berharap, Bank Indonesia mampu pula memberikan fasilitasi uji coba pasar dalam Islamic Sharia Economic Festival tahun 2017 yang akan dilaksanakan di Surabaya bulan November nanti," imbuhnya.

Selanjutnya, menurut Gati, pihaknya akan melakukan proses monitoring dan evaluasi terhadap pelaksanaan pilot project Santripreneur 2017. Apabila program ini berhasil, dapat diduplikasi ke pondok-pondok pesantren lainnya.

Pengasuh Pondok Pesantren Sunan Drajat KH. Abdul Ghofur menyambut baik pelaksanaan program Santripreneur yang diinisiasi oleh Kemenperin, karena dapat menambah kegiatan positif bagi para santri di lingkungan pondok. Selain itu, melalui usahanya nanti, para santi berguna bagi masyarakat menumbuhkan perekonomian daerah setempat seperti penyerapan tenaga kerja.

"Kami merupakan salah satu pondok pesantren yang mandiri dalam memenuhi kebutuhan operasional di dalam lingkungan pondok dengan memiliki beberapa unit industri, di antaranya produksi air minum dalam kemasan (AMDK), jus mengkudu, Kemiri Sunan, Garam Samudra dan pupuk," paparnya.

Pondok Pesantren yang berdiri sejak 1977 ini memliki unit pendidikan, antara lain Taman Kanak-kanak, Madrasah Ibtidaiyah, Madrasah Tsanawiyah, Madrasah Aliyah, dan Institut Sunan Drajat. [ipe]

 
x