Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Minggu, 22 Oktober 2017 | 18:39 WIB

Hanya Tumbuh 5,01%, Ekonomi RI Kurang Sehat

Oleh : M Fadil Djailani | Selasa, 8 Agustus 2017 | 13:15 WIB
Hanya Tumbuh 5,01%, Ekonomi RI Kurang Sehat
(Foto: istimewa)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Sepanjang semester I 2017 ini pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya mampu tumbuh stagnan dilevel 5,01%. Kondisi ini memperlihatkan bahwa perekonomian nasional tidak begitu sehat.

Pertumbuhan ekonomi yang tumbuh stagnan di 5,01%, atau tidak mengalami perubahan signifikan, mengindikasikan bahwa perekonomian sedang dalam kondisi yang tidak sehat," kata peneliti Indef Bhima Yudhistira Adhinegara kepada INILAHCOM di Jakarta, Selasa (8/8/2017).

Dia bilang, tidak sehatnya ekonomi nasional terlihat dari kurang baiknya kinerja konsumsi masyarakat sepanjang semester I-2017. Meskipun tumbuh di kuartal II, konsumsi rumah tangga masih berada dalam tren perlambatan.

"Misalnya, terlihat dari konsumsi rumah tangga yang kinerjanya pada triwulan II masih dibawah ekspektasi atau hanya tmbuh 4.95%. Angka ini terbilang rendah karena tahun lalu bisa tumbuh 5.07%. Padahal konsumsi rumah tangga jadi motor pertumbuhan ekonomi paling utama dengan kontribusi terhadap ekonomi sebesar 56%," papar Bhima.

Penyebab lesunya konsumsi rumah tangga, lanjut Bhima, bisa ditelusuri dari kebijakan Pemerintah yang menyesuaikan harga listrik golongan 900 VA. "Dampaknya sudah dirasakan terhadap daya beli mulai Januari-Juni," kata Bhima.

Untuk itu, kata Bhima, agar tetap menjaga daya beli masayara sarannya ada di pengendalian harga barang yang diatur pemerintah (administered price) seperti BBM, listrik dan LPG 3 kilogram (subsidi). "Jangan naik sampai akhir tahun. Saran kedua ada di penguatan jaring pengaman penyaluran rastra dan PKH harus tepat waktu dan tepat sasaran," papar Bhima.

Di sisi lain, kata Bhima, perlambatan konsumsi juga terjadi pada kelompok masyarakat atas. Untuk kasus kelas atas, mereka menunda konsumsi dan mengalihkan pendapatan ke tabungan. "Jadi orang kaya lebih banyak saving, motif menahan konsumsi lebih ke berjaga jaga karena melihat outlook ekonomi dan resiko politik menjelang pilpres," ujar Bhima. [fdl]

Komentar

 
x