Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Sabtu, 19 Agustus 2017 | 20:12 WIB

Gagal Dapat Mitra Bisnis, Vale Batalkan Smelter?

Oleh : - | Rabu, 9 Agustus 2017 | 17:38 WIB
Gagal Dapat Mitra Bisnis, Vale Batalkan Smelter?
Presiden Direktur PT Vale Indonesia, Nico Kanter - (Foto: Istimewa)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Vale Indonesia membantah khabar gagal menggaet mitra bisnis untuk membangun pabrik pengolahan dan pemurnian mineral (smelter) di Pomala dan Bahodopi, Sulawesi.

"Bukan gagal, melainkan memang proses tersebut belum selesai. Saya tidak pernah menyatakan gagal," kata Presiden Direktur PT Vale Indonesia, Nico Kanter di Jakarta, Rabu (9/8/2017).

Kata Nico, hal itu dikarenakan harga nikel yang terus menurun. Rencananya PT Vale Indonesia akan bermitra membangun smelter di Bahodopi di Sulawesi. Namun, hal tersebut urung terjadi sebab investor asal Tiongkok sedang melihat kepastian kebijakan yang ada di Indonesia. "Wajar saja investor butuh kepastian dan menunggu waktu yang tepat sebab investasi smelter itu butuh waktu jangka panjang serta berkelanjutan, nah, ini yang kami jaga. Akan tetapi, kami tetap menjaga mitra dengan perusahaan asal Tiongkok tersebut," kata Nico.

Nico menjelaskan, kondisi pasar nikel, saat ini, sedang turun terkait kebijakan ekspor bijih nikel Indonesia yang berimbas kepada kemampuan investasi Vale.

Harga nikel saat ini, memang sangat rendah. Alhasil, 25% produsen nikel di dunia beroperasi dengan arus kas negatif. Dan, Vale masih dapat mempertahankan arus kasnya, walaupun menanggung kerugian US$21,5 miliar dalam paruh pertama 2017.

"Pelaksanaan komitmen kontrak karya (KK), membutuhkan pendanaan yang luar biasa. Dengan kondisi harga seperti ini, kami harus mengutamakan keberlangsungan usaha operasi kami terlebih dahulu," kata Nico.

Kondisi harga nikel yang rendah saat ini menurut dia tidak terlepas dari dampak diterbitkannya peraturan pemerintah yang memperbolehkan ekspor bijih mentah sejak awal tahun 2017.

Sebelum diterbitkannya peraturan mengenai relaksasi bijih ekspor, data dari para analis internasional memprediksi harga nikel pada tahun 2017 adalah di kisaran US$11.000 hingga US$12.250 per ton.

Namun, setelah diterbitkannya peraturan tersebut, para analis internasional merevisi prediksi harga nikel pada 2017 longsor menjadi US$9.800 hingga US$10.300 per ton. Sampai saat ini, Pemerintah telah menerbitkan izin ekspor sebesar 8.000.000 ton. [tar]

 
x