Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Rabu, 13 Desember 2017 | 23:46 WIB

Darmin Sedih Pertumbuhan Ekonomi Tidak Diapresiasi

Oleh : M Fadil Djailani | Kamis, 10 Agustus 2017 | 04:29 WIB
Darmin Sedih Pertumbuhan Ekonomi Tidak Diapresiasi
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Menko Perekonomian Darmin Nasution mengaku sedih lantaran pertumbuhan ekonomi Indonesia tak mendapat apresiasi di dalam negeri.

Kondisi perekonomian Indonesia pada 2017 menunjukkan perlambatan. Hal ini terlihat dari pertumbuhan ekonomi yang stagnan sepanjang triwulan II-2017 yang hanya mampu mencapai 5,01%. Pertumbuhan ekonomi ini sama dengan pertumbuhan ekonomi pada triwulan sebelumnya.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengaku sedih pertumbuhan ekonomi Indonesia justru tidak diapresiasi di dalam negeri. Padahal angka 5,01% merupakan angka yang tinggi dibandingkan dengan negara lain di dunia. "Di Indonesia, pertumbuhan ekonomi kita tidak terlalu diapresiasi selalu dianggap kurang. Tapi di dunia internasional, petumbuhan ekonomi kita selalu diapresiasi dengan baik," kata Darmin dalam keterangan tertulisnya kepada media di Jakarta, Rabu (9/8/2017).

Mantan Dirjen Pajak era SBY ini bilang angka pertumbuhan ekonomi tersebut telah berhasil menurunkan tingkat ketimpangan dan kemiskinan. Ketimpangan masih tinggi tetapi tren membaik seperti tercermin dari rasio gini yang terus mengalami penurunan dan mencapai titik terendah pada Maret 2017 sebesar 0,393. Meskipun jumlah penduduk miskin bertambah namun tingkat kemiskinan turun menjadi 10,64% pada Maret 2017. Baik kota dan desa juga mengalami penurunan masing-masing menjadi 7,72% dan 13,93%.

"Gini ratio walaupun kecil tapi terus menurun selama dua tahun terakhir, tingkat kemiskinan juga begitu mengalami penurunan," ungkapnya.

Meskipun mencatatkan torehan baik pada pertumbuhan ekonomi, ketimpangan di Indonesia masih terhitung tinggi. Ketimpangan terjadi pada kelompok kaya dan miskin tercermin dari rasio gini dan simpanan orang kaya masih mendominasi simpanan bank. Ketimpangan juga terjadi antar daerah dimana Jawa masih mendominasi ekonomi sementara daerah lain masih terbelakang khususnya Kawasan Indonesia Timur. [fdl]

Komentar

 
Embed Widget

x