Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Kamis, 19 Oktober 2017 | 14:27 WIB

Kurangi Impor Pangan, IPB Lakukan Ini

Oleh : - | Jumat, 11 Agustus 2017 | 18:45 WIB
Kurangi Impor Pangan, IPB Lakukan Ini
(Foto: Istimewa)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Membantu pemerintah merealisasikan ketahanan pangan sekaligus mengurangi impor, Institut Pertanian Bogor (IPB) menciptakan berbagai varietas tanaman unggulan.

Undang, salah satu dosen Program Keahlian Teknologi Industri Benih Program Diploma IPB, menjelaskan, salah satu upaya mengurangi ketergantungan impor pangan seperti beras bisa dilakukan dengan cara penganekaragaman pangan berupa padi, cabai, sagu, jagung, singkong, ubi jalar serta kentang.

"Selain itu, pihak terkait juga bisa membatasi konversi lahan pertanian yang akan dijadikan bangunan, sehingga lahan sawah tetap ada bahkan ditambah luas areal sawahnya," kata Undang dalam peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Harteknas) di Bogor, Jawa Barat, Jumat (11/8/2017).

Selain menambah luas areal sawah, kegiatan menciptakan dan mengembangkan varietas unggulan tanaman yang mampu menyesuaikan dengan lingkungan dan mampu memproduksi dengan kualitas tinggi dikenal dengan istilah program intensifikasi dan ekstensifikasi harus terus berjalan.

Undang mengatakan, upaya intensifikasi dan ekstensifikasi itu dilakukan dengan cara penggunaan pupuk, bibit unggul, pengairan, pemeliharaan, dan penyuluhan kepada petani di Indonesia.

IPB, menurutnya, sudah menciptakan padi varietas 3S yang menghasilkan gabah 11,5 ton per hektar, dan varietas 4S yang menghasilkan gabah 10,4 ton per hektar. Angka produksi ini dua kali lipat lebih dari rata-rata produktivitas padi nasional hanya 5,05 ton per hektar.

Selain pangan, IPB juga menciptakan varietas cabai IPB CH3 yang produktivitasnya mampu menghasilkan 1,11 kilogram per tanaman. Atau sekitar 15 ton per hektar, untuk kentang varietas Jala Ipam menghasilkan 21,7 ton per hektar. Sedangkan jagung manis varietas SD3-IPB menghasilkan 15 ton tongkol muda per hektar, dan varietas kedelai hitam menghasilkan 2,1 ton per hektar. "Kami berharap, lahirnya varietas unggulan ini bisa mengurangi ketergantungan terhadap impor," kata Undang.

Dia menyatakan, pemerintah perlu memberikan insentif atau kemudahan kepada petani. Misalnya, pembelian gabah atau hasil pertanian dengan harga layak, sehingga petani termotivasi untuk mengembangkan pertanian.

Dalam rangka pengembangan dan penyebarluasan varietas, IPB bekerja sama dengan penangkar benih atau gabungan kelompok tani (gapoktan) di daerah.

Varietas padi IPB 3S dan 4S merupakan varietas padi unggul dan sudah diuji di IPB. Varietas ini sudah dilepas dengan nama galur padi sawah IPB 97-F-15-1-1 pada 28 Maret 2012 di Jakarta melalui SK Menteri Pertanian Nomor: 1112/kpts/SR.120/3/2012.

Penyebaran varietas milik IPB itu sudah didistribusikan dan ditanam hampir di seluruh Indonesia mulai dari Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, bahkan Papua.

Namun, pemerintah masih membuka keran impor untuk pangan di Indonesia. Karena itu, Undang mengingatkan kebijakan impor ini merupakan kebijakan pemerintah dan kesepakatan antarnegara, hanya saja saat ini yang perlu dicek dan diawasi adalah jumlah kebutuhan impor dan kualitas produk, sehingga produk dalam negeri tetap menjadi yang utama.

Undang berharap pihak yang membuat kebijakan terkait pertanian di Indonesia semakin memperhatikan nasib petani demi meningkatkan kesejahteraan masyarakat Indonesia.

"Saya berharap semakin dihargai dan diperhatikan nasib para petani, sehingga mereka masih mau bertani, dan terkait Hari Teknologi Nasional semoga tercipta teknologi yang ramah lingkungan, murah, aplikatif, dan mudah dijangkau oleh petani," kata Undang. [tar]

Komentar

 
x