Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Senin, 20 November 2017 | 18:32 WIB

Makro Ekonomi Oke, Daya Beli Rontok, Ada Apa?

Oleh : M Fadil Djailani | Sabtu, 12 Agustus 2017 | 17:54 WIB
Makro Ekonomi Oke, Daya Beli Rontok, Ada Apa?
Ekonom UI Faisal Basri - (Foto: inilahcom)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Ekonom UI Faisal Basri mengaku bingung dengan daya beli yang merosot di tengah makroekonomi yang tidak buruk. Bisa jadi duduk perkara yang tidak jelas.

"Jika duduk perkaranya jelas, boleh jadi tidak terjadi anomali antara data makro dan data mikro," kata Faisal dalam sebuah dikusi di Jakarta, Sabtu (12/8/2017).

Kata Faisal, kalangan yang mengatakan daya beli masyarakat merosot, bertolak dari kenyataan omzet beberapa outlet penjualan ritel modern dan penjualan sejumlah barang mengalami penurunan. Namun indikator ini tidaklah cukup untuk membuktikan apakah daya beli memang merosot. "Sudah barang tentu kenyataan itu tidak mencerminkan daya beli masyarakat secara keseluruhan," ujar mantan Ketua Tim Reformasi Tata Kelola Migas ini.

Dia bilang, daya beli masyarakat secara keseluruhan akan turun seandainya peningkatan pendapatan masyarakat lebih lambat ketimbang peningkatan harga-harga umum sebagaimana terefleksikan dari laju inflasi.

"Namun berdasarkan harga berlaku selama kurun waktu 2013-2016 mengalami kenaikan rata-rata 9,8%. Bahkan pada tahun 2016 kenaikannya tertinggi selama periode itu, yaitu 11,7%," kata Faisal.

Tak puas disitu, Faisal lantas melihat dari sisi indikator harga yakni inflasi dimana, sepanjang tahun ini laju inflasi terbilang cukup rendah.

"Kita harus memperhitungkan kenaikan harga dengan menggunakan deflator PDB atau deflator pendapatan nasional. BPS menyajikan data itu. Agar lebih mengerucut pada daya beli, kita gunakan saja indeks harga konsumen yang lazim dipakai untuk mengukur laju inflasi. Ternyata laju inflasi selalu lebih rendah dari pertumbuhan nominal pendapatan nasional maupun pendapatan nasional per kapita, bahkan laju inflasi menunjukkan kecenderungan menurun hingga di bawah 4% pada Juli 2017," papar Faisal. [ipe]

Komentar

 
Embed Widget

x