Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Sabtu, 18 November 2017 | 09:38 WIB

Menteri Bambang Punya Jurus Jitu Atasi Ketimpangan

Oleh : - | Senin, 14 Agustus 2017 | 14:30 WIB
Menteri Bambang Punya Jurus Jitu Atasi Ketimpangan
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Bambang Brodjonegoro - (Foto: Inilahcom)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Bambang Brodjonegoro memiliki cara jitu untuk terus menekan angka ketimpangan ekonomi.

Jurus jitu tersebut terangkum dalam catatan-catatan penting dalam upaya mengurangi tingkat kemiskinan dan ketimpangan di Tanah Air.

"Beberapa catatan penting dapat diambil, terutama mengenai usaha kita dalam mengurangi kemiskinan. Pertama, dengan tingkat kemiskinan yang rendah, penting untuk mempertajam target kebijakan dan mekanisme penyaluran bantuan untuk menjangkau orang miskin," ujar Bambang dalam acara International Conference on Indonesian Economy and Development (ICIED) di Jakarta, Senin (14/8/2017).

Seiring dengan itu, lanjut Bambang, beberapa jenis subsidi perlu disesuaikan agar bisa menjangkau masyarakat yang membutuhkan. Keakuratan data merupakan prasyarat penting. Mekanisme penyaluran bantuan harus diarahkan untuk menjangkau orang-orang yang ditargetkan secara nyata dan tidak mengakibatkan distorsi yang berlebihan.

"Kedua, penting juga untuk memiliki kebijakan yang tepat untuk memutus siklus kemiskinan. Kebijakan ini mencakup kegiatan pendidikan, kesehatan, dan ekonomi yang memungkinkan orang miskin dan generasi berikutnya untuk keluar dari siklus kemiskinan," katanya.

Dalam hal ketimpangan, pemerintah sendiri telah memberikan perhatian serius terhadap ketimpangan pendapatan individu dan ketimpangan regional. Meskipun koefisien Gini di Indonesia tidak dianggap tinggi, yaitu mencapai 0,393 per Maret 2017, rasio Gini di Indonesia diperkirakan berdasarkan pengeluaran publik dan dianggap belum mencerminkan kesenjangan pendapatan aktual. Konsumsi kelompok berpenghasilan tinggi berpotensi jauh di bawah pendapatan aktual.

"Untuk mengurangi ketimpangan pendapatan, diperlukan kebijakan menengah dan jangka panjang. Salah satu alasannya karena koefisien Gini yang tinggi di Indonesia terutama disebabkan oleh 'commodity boom" dan dibutuhkan waktu untuk mengurangi ketimpangan," ujar Bambang.

Menurut Bambang, 'commodity boom' telah menciptakan pendapatan yang lebih tinggi hanya untuk masyarakat berpenghasilan tinggi, dan akan memerlukan waktu untuk mengurangi ketimpangan pendapatan bahkan setelah 'commodity boom' berakhir.

"Untuk mengurangi kesenjangan tersebut, kami mencoba meningkatkan pendapatan dari masyarakat berpenghasilan rendah dan menengah sehingga pada gilirannya mereka dapat mempersempit ketimpangan pendapatan," katanya.

Ia menambahkan, beberapa upaya untuk mengurangi ketimpangan pendapatan mencakup reformasi agraria, pengembangan sektor pertanian, dan pengembangan sumber daya manusia melalui, misalnya, pelatihan. Secara keseluruhan, pemerintah Indonesia berkomitmen untuk mengurangi ketimpangan pendapatan individu.

Terakhir, ketimpangan regional juga tetap menjadi perhatian utama pembangunan ekonomi di Indonesia. Selama 30 tahun terakhir, peran kawasan timur Indonesia telah sedikit membaik dibandingkan dengan kawasan barat Indonesia. Meski, ada kinerja ekonomi yang baik di wilayah Sulawesi, namun wilayah lain di wilayah timur Indonesia, masih tumbuh relatif lamban. Karena itu, pemerintah berkomitmen untuk mempercepat pembangunan ekonomi di Kawasan Timur Indonesia.

Langkah pertama adalah membangun konektivitas yang mampu menghubungkan wilayah timur dengan bagian barat. Dengan konektivitas yang lebih baik, kawasan timur Indonesia akan dapat merasakan dinamika pembangunan yang telah dilakukan di wilayah barat Indonesia.

"Langkah kedua adalah membangun sentra ekonomi di luar Jawa, terutama di bagian timur. Dengan zona industri dan pembangunan ekonomi di luar Jawa, biaya logistik bisa dikurangi secara bertahap," ujar Bambang. [tar]

Komentar

 
Embed Widget

x