Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Minggu, 19 November 2017 | 06:09 WIB

Utang 2018 Menggunung untuk Belanja Produktif?

Oleh : M Fadil Djailani | Minggu, 20 Agustus 2017 | 11:49 WIB
Utang 2018 Menggunung untuk Belanja Produktif?
Direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Enny Sri Hartati - (Foto: Inilahcom)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Dalam RAPBN 2018, pemerintahan Joko Widodo menetapkan pembiayaan utang Rp399,2 triliun. Janjinya, dana itu dimanfaatkan untuk sektor produktif dan efisien. Omong kosong atau benar adanya?

Direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Enny Sri Hartati mengatakan, selama ini, klaim utang yang dikatakan pemerintah produktif, ternyata tidak sepenuhnya benar.

"Begitu tadi menambah utang, yang selama ini utang dikatakan untuk kejar infrastruktur. Tetapi dilihat dari 3 tahun, tidak terlihat. Kalau kita lihat ini belanja infrastruktur, akhir porsinya (utang) hanya 15% total belanja modal (infastruktur)," kata Enny dalam diskusi di kantornya, Jakarta, Jumat (18/8/2017).

Selain cekaknya porsi utang luar negeri untuk pembiayaan infrastruktur, Enny juga mengkritisi cicilan utang yang harus ditanggung negara. Yang notabene itu keringat rakyat. "Sementara untuk bunga dan cicilan (utang) itu lebih tinggi 16,81%. Nah ini yang harus dijelaskan," kata Enny.

Berdasarkan data Indef yang mengutip dari Kementerian Keuangan, dalam 3 tahun terakhir, belanja infastruktur masih di bawah pembayaran bunga utang luar negeri.

Periode 2014 hingga 2016, kualitas dan kinerja belanja pusat belum optimal. Pada 2014, belanja modal hanya 91,64% sementara porsi pembayaran bunga utang 98,51%. pada 2015, belanja modal hanya 85,20% sedangkan pembayaran bunga utang 100,18%.

Tahun lalu, ternyata sami mawon. Di mana, belanja modal hanya 82,04% sementara pembayaran bunga utang 95,59%. "Jadi itu sebenarnya yang jadi titik krusial. Acuan untuk melihat seberapa ekfektifitas utang. Kalau lihat secara agregasi makro, bisa dicermati dari keseimbangan primer," kata Enny.

Padahal, kata Enny, beberapa waktu lalu Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati bilang, pemerintah mengelola utang dengan hati-hati. Salah satu buktinya, terjaganya defisit keseimbangan primer di semester I-2017.

Sri Mulyani mengatakan, defisit keseimbangan primer pada periode tersebut hanya Rp68,2 triliun. Bandingkan dengan semester I-2016, defisit keseimbangan primer mencapai Rp143,4 triliun.

Menurut Ani, sapaan akarabnya, meski berhasil diturunkan, namun, defisit tetaplah defisit. Upaya terus dilakukan pemerintah guna menjaga defisit di level aman. Tidak bisa pula merubah defisit secara radikal karena bisa menimbulkan shock. Adapun defisit APBN semester I-2017 sebesar 1,29% dari PDB. Jauh di bawah periode sama di 2016 yang mencapai 1,82% PDB (Produk Domestik Bruto). [ipe]

Komentar

 
Embed Widget

x