Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Selasa, 24 Oktober 2017 | 12:52 WIB

Ini Alasan Target Pajak 2018 akan Sulit Tercapai

Oleh : M Fadil Djailani | Rabu, 23 Agustus 2017 | 12:54 WIB
Ini Alasan Target Pajak 2018 akan Sulit Tercapai
(Foto: Istimewa)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Lembaga kajian independen Center for Indonesia Taxation Analysis (CITA) menilai target penerimaan pajak pada tahun 2018 yang disusun oleh tim ekonomi Jokowi dinilai terlalu berat.

"Target penerimaan pajak dalam RAPBN 2018, menurut kami cukup realistis dan moderat, meski tetap menunjukkan optimisme yang cukup tinggi. Terlebih, jika dibandingkan dengan target pajak APBN-P 2017 yang hanya dinaikkan sekitar 9%," kata Direktur Eksekutif CITA, Yustinus Prastowo dalam pernyataan resmi di Jakarta, Rabu (23/8/2017).

Untuk target penerimaan pajak dalam RAPBN 2018 dinaikkan sebesar 21% dari proyeksi penerimaan pajak 2017. Berdasarkan proyeksi CITA, penerimaan pajak pada 2017 berkisar Rp1.094,88 triliun Rp1.169,86 triliun atau 85,3%-91,14% dari target penerimaan pemerintah. Proyeksi ini didasari oleh kinerja penerimaan per Juli 2017 yang meskipun menunjukkan kenaikan, akan tetapi belum memuaskan.

"Pada periode tersebut kinerja penerimaan pajak y.o.y. mencapai 12,47%. Namun, kinerja tersebut sudah termasuk penerimaan dari program amnesti pajak (Periode III Januari-Maret 2017). Jika penerimaaan dari amnesti pajak dikecualikan, kinerja penerimaan pajak hanya sebesar 8,49% atau Rp578,6 triliun," paparnya.

Sementara, kinerja 2017 akan diuji lagi pada September 2017 terlebih apabila dibandingkan dengan tahun lalu (September 2016) yang melonjak tajam dari tambahan penerimaan amnesti pajak yang cukup signifikan.

Target Pajak Non-Migas Berat

Sementara untuk sektor PPh Non-Migas, Yustinus mengatakan penerimaan PPh Non-Migas dalam target RAPBN 2018 adalah yang paling berat untuk dicapai. Target penerimaan PPh Non-Migas meningkat 29,39% atau sebesar Rp816,99 triliun dibandingkan proyeksi realisasi penerimaan PPh Non-Migas tahun 2017.

"Di tahun 2017 sendiri, kami memproyeksikan penerimaan PPh Non-Migas hanya mencapai Rp631,4 triliun atau 85,07% dari target. Proyeksi ini didasari kinerja penerimaan PPh Non-Migas tahun 2017 yang lebih rendah dari tiga tahun sebelumnya," katanya.

Dia bilang, per-Juli 2017, kinerja PPh Non-Migas hanya sebesar 7,62% y.o.y yang jauh lebih rendah dibandingkan rata-rata kinerja tiga tahun terakir yaitu 15,15%. Hal ini dipengaruhi oleh belum optimalnya tindak lanjut data amnesti pajak yang masih menunggu diterbitkannya Peraturan Pemerintah sebagai pelaksanaan Pasal 18 UU Pengampunan Pajak.

Sebaliknya, target peneriman PPN lebih realistis dibandingkan target penerimaan PPh Non-Migas, yaitu sebesar Rp535,3 triliun pada RAPBN 2018. Dibandingkan dengan proyeksi realisasi penerimaan PPN 2017, target penerimaan PPN dalam RAPBN 2018 meningkat 13,7%.

"Di tahun 2017, kami memproyeksikan realisasi penerimaan PPN mencapai angka Rp470 triliun. Hal ini didasari peningkatan kinerja penerimaan PPN per-Juli 2017 yang meningkat 11,13% y.o.y. Dengan performa ini target PPN 2018 diperkirakan akan tercapai," katanya.

Untuk penerimaan lainnya (Cukai dan PNBP), target pemerintah dalam RAPBN 2018 cukup realisitis. Terkait target penerimaan Cukai dalam RAPBN 2018 (hanya meningkat 3,73% dari realisasi proyeksi 2017 Rp149,81 triliun). Terlihat sudah bahwa Pemerintah mempertimbangkan kondisi IHT (Industri Hasil Tembakau) yang kontribusi Cukainya tertekan sejak 2014 atas penurunan produksi rokok.

Selama ini penerimaan Cukai Hasil Tembakau (CHT) mendominasi penerimaan Cukai (95%). Sedangkan, penerimaan PNBP terlihat menunjukan peningkatan kinerja per Juni 2017, kinerja penerimaan PNBP mencapai 30,3%. Dengan kinerja tersebut, penerimaan PNBP berpotensi mencapai Rp341,97 triliun atau melewati target APBN-P 2017 sebesar Rp260,2 triliun [hid]

Komentar

 
Embed Widget

x