Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Sabtu, 23 September 2017 | 12:33 WIB

Pengamat Sambut Baik HET Beras Mendag Enggar

Oleh : - | Kamis, 24 Agustus 2017 | 19:58 WIB
Pengamat Sambut Baik HET Beras Mendag Enggar
Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita
facebook twitter

INILAHCOM, Kupang - Pengamat Pertanian Rafael Leta Levis, mengapresaisi aturan Harga Eceran Tertinggi (HET) beras medium dan premium. Upaya mempertahankan daya beli masyarakat dan mengendalikan inflasi.

"Ini langkah yang tepat dan strategis di tengah gejolak harga beras yang fluktuatif, sehingga perlu mendapatkan dukungan dan penghargaan kepada Pemerintah melalui Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita," kata Leta Levis, di Kupang,NTT Kamis (24/8/2017).

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita menyatakan, dalam menentukan harga tersebut tidak mudah, apalagi ini merupakan harga tertinggi. HET tersebut berlaku di pasar ritel modern dan pasar tradisional dan ketentuan yang akan diatur dalam Peraturan Menteri Perdagangan tersebut saat ini sedang dalam proses diundangkan di Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia.

Penetapan HET beras kualitas medium tersebut, katanya untuk wilayah Jawa, Lampung, Sumatera Selatan, Bali, Nusa Tenggara Barat dan Sulawesi sebesar Rp9.450 per kilogram, dan Rp12.800 untuk jenis premium.

Sementara untuk wilayah Sumatera, tidak termasuk Lampung dan Sumatera Selatan, Nusa Tenggara Timur dan Kalimantan untuk beras kualitas medium Rp9.950 dan premium 13.300 per kilogram.

Sedangkan untuk Maluku termasuk Maluku Utara dan Papua, HET beras kualitas medium sebesar Rp10.250 per kilogram dan Rp13.600 untuk beras jenis premium. Untuk HET beras medium Rp9.450 per kilogram itu umumnya adalah daerah produsen beras. Sementara wilayah lain kami sudah berhitung termasuk biaya transportasi.

Menurut Leta, pengelompokkan tiga jenis beras untuk saat ini yang nantinya akan diatur melalui Peraturan Menteri Pertanian. Kelompok pertama adalah beras jenis medium yang memiliki spesifikasi derajat sosoh minimal 95%, kadar air maksimal 14% dan butir patah maksimal 25%.

"Semua ini merupakan upaya pemerintah menstabilkan harga komoditas, terutama beras sebagai pangan pokok yang pada waktu-waktu tertentu dalam tahun berjalan pasti selalu bergerak naik dan bahkan ada jenis bahan pangan pokok yang langka di pasaran karena ongkos atau biaya pengadaannya dan pembeliannya mahal," kata Leta.

Mahalnya bahan-bahan kebutuhan pokok itu umumnya bukan karena pedagang dan distributor tidak sanggup mendatangkannya tetapi lebih pada daya beli konsumen ketika bahan pangan itu tiba dan diecerkan pedagang kepada konsumen dengan harga tinggi.

Hal ini katanya terjadi karena disparitas atau perbedaan harga dalam proses perdagangan antarwilayah dan daerah di tanah air, diantaranya disebabkan oleh jarak tempuh sarana transportasi. "Jarak tempuh sarana transportasi darat, laut dan udara dalam proses perdagangan telah menimbulkan perbedaan harga dari lokasi proses produksi (pabrik) hingga hasil produksi itu diperdagangkan atau diantarpulaukan," kata Leta.

Sehingga dosen Fakultas Pertanian Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang ini berharap disparitas harga barang-barang yang terlalu mencolok sekarang ini dapat diturunkan atau bahkan dikurangi dengan berbagai terobosan apakah sistem impor ataukah pasar murah oleh Perum Bulog. [tar]

 
x