Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Rabu, 24 Januari 2018 | 10:54 WIB
 

Tiga Permasalahan Ini Membelit PT Dirgantara

Oleh : - | Kamis, 24 Agustus 2017 | 22:47 WIB
Tiga Permasalahan Ini Membelit PT Dirgantara
(Foto: istimewa)

INILAHCOM, Jakarta-Sehari menjelang HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke-72, bangsa Indonesia dikejutkan dengan hadiah yang diberikan oleh PT Dirgantara Indonesia.

Hadiah tersebut berupa terbang perdana Pesawat purwarupa N219 rancangan PTDI bersama LAPAN yang diterbangkan oleh pilot penguji Esther Gayatri dari Bandara Husein Sastranegara.

"Tentu publik patut bergembira dan berbesar hati dengan karya anak bangsa yang merupakan salah satu tolok ukur kemajuan industri dirgantara tersebut," kata Yudi Hastika, Ketua Tanah Air Institute, di Jakarta, Kamis (24/8/2017).

Namun demikian, Yudi menilai, dalam satu dekade, kepemimpinan Budi Santoso sebagai Direktur Utama PT Dirgantara Indonesia belum mampu membuat kinerja perusahaan plat merah ini menjadi cemerlang kembali, justru sebaliknya masih menyisakan banyak sekali permasalahan yang mendasar.

Paling tidak, ada tiga permasalahan yang kini membelit PT Dirgantara Indonesia. Menurut dia, industri pesawat terbang tersebut memiliki tiga masalah, yaitu:

Pertama, keterlambatan penyelesaian dan pengiriman pesawat ke konsumen, sehingga dikenakan denda. Misalnya seperti proyek pesawat N 111 pesanan Filipina yang dikenai denda sebesar Rp222,56 miliar; Proyek pesawat C 212-400 pesanan Thailand, dikenai denda sebesar Rp175,8 miliar; dan Proyek pesawat Super Puma NAS332 pesanan TNI-AU, dikenai denda Rp8,5 miliar.

Kedua, kebih banyak memasarkan produk Non PTDI, sehingga selisih pendapatan dari penjualan produk tersebut tidak mencukupi biaya operasional tahunan PTDI.

Produk non PTDI yang dipasarkan PTDI (sebagai perantara), kata dia, antara lain C 295; Heli Serbu Bell 412; Heli Serang Fennec, EC 725; EC 135; dan AS 305.

Ketiga, PT DI masih menggunakan mitra penjualan (Agen) untuk menjual produk pesawat/helikopter ke dalam negeri (Kementerian Pertahanan) dengan pendanaan berasal dari APBN.

Misalnya, pengadaan helicopter Bell 412 EP di Kementerian Pertahanan yang menggunakan mitra penjualan (Agen) yaitu PT Bumiloka Tegar Perkasa dan PT Angkasa Mitra Karya.

Dengan menggunakan mitra penjualan (Agen) menunjukkan jika marketing di internal PTDI tidak cukup inovatif dalam meyakinkan Kemenhan untuk menggunakan produk dalam negeri (PTDI). Sehingga, mengurangi keuntungan yang dapat diperoleh oleh PTDI karena harus dibagi dengan mitra penjualan (Agen) tersebut.

Ketiga permasalahan mendasar tersebut sangatlah berpengaruh pada performance PTDI. "Oleh karena itu, permasalahan tersebut harus dapat segera diatasi, jika tidak ingin keberadaan PTDI tak ubahnya benalu bagi Negara Republik Indonesia," timpal dia.

Kondisi itu juga, lanjut Yudi, dapat memengaruhi pertahanan negara karena ketidakmampuan PT DI mendukung TNI dengan menyediakan alutsista yang dibutuhkan untuk mewujudkan strategi pertanahan negara Indonesia.

Berdasarkan kondisi tersebut, Yudi mendesak Komisaris Utama PTDI harus segera melakukan evaluasi dan melakukan penyegaran di tubuh manajemen PTDI.

Kementerian BUMN sebagai perpanjangan tangan Presiden (Pemerintah) Republik Indonesia harus mencari dan memilih Dirut PTDI sebagai pengganti Budi Santoso yang lebih baik dan bukan merupakan bagian dari Kroni Budi Santoso.

Bukan tanpa alasan hal tersebut harus menjadi perhatian serius Menteri BUMN, memperhatikan ada indikasi kroni Budi Santoso tidak rela melepaskan kekuasaannya atas PTDI.

Karena itu perlu diantisipasi kabar burung yang merebak, jika Budi Santoso akan mengundurkan diri dalam waktu dekat. Yang mana pengunduran diri tersebut merupakan rangkaian upaya untuk mendorong Arie Wibowo (Direktur Produksi) sebagai caretaker Dirut PTDI.

Rencana pengangkatan Arie Wibowo sebagai caretaker tersebut disengaja untuk menimbulkan kegaduhan, karena tidak sesuai dengan prosedur mengingat saat ini masih berlangsung proses seleksi Dirut PTDI.

Dengan mundurnya Budi Santoso maka akan terjadi kekosongan kepemimpinan (Dirut PTDI) sehingga akan memaksa menteri BUMN untuk mengangkat Arie Wibowo sebagai direktur PTDI definitif.

"Rencana busuk Budi Santoso tersebut yang diduga dirancang bersama Fajar Harry Sampurno (Deputi Bidang Industri Pertambangan, Industri Strategis dan Media, Kementerian BUMN) patut diwaspadai," ungkap dia.

"Oleh karena itu, temuan-temuan permasalahan tadi akan segera kami laporkan ke KPK. Sebab indikasi korupsinya juga sangat kuat," imbuhnya. [jin]

Tags

Komentar

 
x