Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Kamis, 21 September 2017 | 08:33 WIB

Sawit Bikin Warga Sulbar dan Sulteng Tertawa Lebar

Oleh : - | Sabtu, 26 Agustus 2017 | 02:49 WIB
Sawit Bikin Warga Sulbar dan Sulteng Tertawa Lebar
(Foto: inilahcom)
facebook twitter

INILAHCOM, Palu - Bisnis sawit memang menggiurkan karena melahirkan keuntungan besar. Alhasil, petani sawit di seluruh penjuru negeri ini, bisa tertawa lebar. Lantaran kesejahteraannya bisa tercukupi.

"Kemenangan kita sebagai petani kelapa sawit adalah bisa mengantarkan anak-anak melanjutkan kuliah ke berbagai perguruan tinggi terkemuka di tanah air, bahkan hingga ke berbagai belahan penjuru dunia," ungkap Andik Kaerudin, Ketua Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Sulawesi Barat (Sulbar) dalam Workshop Jurnalistik Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) di Palu, Kamis (24/8/2017).

Pernyataan tersebut mengemuka dalam diskusi yang digelar PWI Sulbar bekerja sama dengan PWI Sulawesi Tengah (Sulteng) di Hotel Sutan Raja, Kota Palu. "Kami (wartawan) juga ingin berkontribusi terhadap industri yang telah menjadi sumber penghidupan bagi sebagian besar masyarakat di Sulawesi dengan cara mengedukasi masyarakat lewat berita baik cetak maupun online. Industri kelapa sawit sudah terbukti memberikan kontribusi positif, adalah suatu keharusan bagi kami menyampaikan kebenaran tersebut kepada publik," seru Ketua PWI Sulawesi Tengah, Mahmud Matangara.

Selain dihadiri PWI Sulteng dan Apkasindo Sulbar, acara ini diikuti Forum Pemimpin Redaksi (Pemred) dan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki). Tidak hanya itu, PWI Sulteng juga menghadirkan tiga orang pembicara yang kompeten dibidangnya masing-masing.

Pembicara pertama adalah Dosen Departemen Sosial Ekonomi Pertanian, Univesitas Hasanudin, Prof Didi Rukmana yang menyampaikan makalah perkembangan sosial ekonomi Provinsi Sulbar dan Sulteng sebelum dan sesudah 90-an. Kehadiran industri kelapa sawit memberikan angina segar bagi ekonomi Sulbar dan Sulteng.

"Kontribusi sektor perkebunan, termasuk kelapa sawit rata-rata adalah plus-minus 20 persen, yang secara positif berdampak pada peningkatan pengeluaran perkapita masyarakat. Peningkatan Konsumsi masyarakat mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. Artinya tingkat kesejahteraan masyarakat juga semakin baik," papar Didi.

Sejalan dengan pernyataan tersebut, Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Hasanudin, ProfLaode Asrul menyatakan, selain menjadi stimulus perekonomian, industri sawit telah membuktikan diri sebagai sektor usaha yang berkelanjutan.

"Beberapa sektor industri masih bermasalah degan sistem tata niaga yang tidak baik, ada pula yang tidak bertahan setelah beberapa tahun karena tidak dapat diperbarui, sehingga saat sumber dayanya habis akan kehilangan tajinya," ungkap Laode.

Lebih lanjut Laode menjelaskan, bahwa Industri kelapa sawit adalah salah satu contoh dari apa itu industri yang memiliki kelangsungan usaha yang baik (sustain). Salah satunya dengan diterapkannya Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO). Kelapa Sawit juga merupakan industri yang dapat diperbaharui, sehingga tidak membutuhkan waktu berpuluh-puluh tahun untuk memperoleh kembali manfaatnya.

"Apalagi sektor ini (kelapa sawit) secara kompetiif dan komparatif telah melekat di bumi Indonesia. Indonesia bersama dengan Malaysia merupakan dua Negara paling kompetitif di industri ini, bahkan nyaris tanpa pesaing. Oleh karenanya patut kita perjuangkan bersama," pungkas Laode.

Dalam acara tersebut, Media Massa juga dihimbau agar dapat menyampaikan informasi secara berimbang. Terutama berkaitan dengan maraknya kampanye negatif yang dialamatkan oleh Eropa dan Amerika. Pemimpin Umum Warta Ekonomi, Muhamad Ihsan yang juga menjadi salah satu panelis dalam acara tersebut secara tegas menyatakan bagaimana sebaiknya media harus bersikap.

"Sayangnya banyak pemberitaan yang masih belum berimbang, mengandalkan opini salah satu sumber saja, tanpa terlebih dahulu melihat fakta di lapangan. Contohnya saja, berita dari LSM asing sering begitu saja diambil, tanpa ada kroscek terlebih dahulu kebenarannya dengan pihak terkait. Sehingga ujung-ujungnya pemberitaan menjadi tidak berimbang, bahkan lebih parahnya lagi informasi yang didapat itu tidak benar," sesal Ihsan.

Sebelum acara tersebut ditutup, Ihsan mengajak agar insan media lebih kritis dan objektif dalam memberitakan sebuah informasi, jangan sampai apa yang diberitakan adalah sebuah kebohongan. Karena kebohongan yang disampaikan secara berulang-ulang, akan diterima publik sebagai suatu kebenaran, meskipun secara hakiki kebenaran tersebut adalah adalah mutlak sebagai bentuk pembohongan publik. [tar]

 
x