Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Senin, 11 Desember 2017 | 20:21 WIB

KKP Targetkan Produksi Ikan 2019 Bisa 31,3Juta Ton

Oleh : Dewa putu sumerta | Selasa, 29 Agustus 2017 | 00:29 WIB
KKP Targetkan Produksi Ikan 2019 Bisa 31,3Juta Ton
Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto - (Foto: Inilahcom/Dewa PS)
facebook twitter

INILAHCOM, Kuta - Sejak tahun ini, Kementerian Perikanan dan Kelautan (KKP) menargetkan pertumbuhan produksi ikan sebesar 9% per tahun. Atau sebesar 31,3juta ton pada 2019.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya KKP, Slamet Soebjakto bilang, salah satu faktor penentu tercapainya target produksi perikanan budidaya adalah kemampuan mencegah dan mengendalikan penyakit ikan.

Hal itu disampaikan Slamet dalam acara "10 Th Symposium On Disease On Asian Aquaculture (DAA10) di Kuta, Badung, Bali, Senin (28/08/2017).

Dijelaskan bahwa berbagai kebijakan dan langkah pencegahan dan pengendalian penyakit ikan telah dilakukan DJPB. Hingga saat ini, Indonesia mampu terus meningkatkan produksi perikanan budidaya. produksi perikanan budidaya dari tahun 2011-2015 rata-rata mengalami kenaikan sebesar 19,08%.

"Produksi perikanan budidaya setiap tahun terus meningkat, peningkatan tersebut tidak terlepas dari semakin kondusifnya iklim usaha budidaya baik secara regulasi, kemudahan perizinan, infrastruktur yang semakin membaik dan kemampuan kita untuk terus mencegah dan mengendalikan berbagai penyakit ikan yang dapat mengancam usaha budidaya," ucap Slamet.

Sebagai informasi saja, KKP telah menetapkan kebijakan Good Hatchery Practices (GHP), Good Aquaculture Practices (GAP), serta monitoring residu di tingkat nasional. Hal itu sebagai langkah pencegahan dan pengendalian penyakit maupun kontaminan pada ikan. Dengan kebijakan ini diharapkan bisa menjamin kesuksesan usaha budidaya dan menjadi tool untuk mewujudan jaminan produk perikanan budidaya Indonesia itu aman dikonsumsi.

"Saat ini Indonesia masih bebas dari penyakit yang menyerang udang yaitu white feses dan acute hepatopankreas necrosis disease (AHPND) dan juga Tilapia Lake Virus (TiLV) yang menyerang ikan dari jenis Tilapia dan saat ini tengah hangat dibicarakan. Hal ini dapat terwujud karena Indonesia telah menerapkan tindakan pencegahan, biosecurity yang ketat dan tindakan pemeriksaan karantina ikan di pintu masuk dan keluar baik untuk keperluan dalam negeri maupun luar negeri," jelas Slamet.

KKP melalui Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya telah mengeluarkan surat edaran nomor 3975/DJPB/VII/2017 tanggal 14 Juli 2017 tentang Pencegahan dan pemantauan terhadap Penyakit TiLV pada Ikan Nila.

Dalam edaran ini disebutkan langkah-langkah pencegahan dan pemantauan terhadap Penyakit TiLV, yaitu: pertama dengan melarang pemasukan calon induk, induk, dan/atau benih ikan Nila dari negara yang terkena wabah TiLV yaitu Israel, Kolombia, Ekuador, Mesir dan Thailand.

Langkah kedua dengan membatasi pemasukan calon induk, induk, dan/atau benih ikan Nila dari negara yang tidak terkena wabah dengan memenuhi ketentuan wajib melampirkan izin pemasukan ikan hidup, melampirkan sertifikat kesehatan ikan dan uji hasil mutu.

Langkah ketiga adalah untuk sementara tidak melakukan kegiatan penebaran benih Tilapia di perairan umum. Keempat dengan melakukan pengujian laboratorium di pintu pemasukan dan pengeluaran antar daerah. Dan langkah kelima dengan meminta seluruh Unit Pelaksana Teknis (UPT) lingkup DJPB dan Dinas Perikanan Provinsi/Kabupaten/Kota melakukan surveilan serta monitoring penyakit TiLV. [ipe]

Komentar

 
x