Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Selasa, 19 September 2017 | 18:42 WIB

Damri Tekor Saban Tahun, Ini Kata Bosnya

Oleh : M Fadil Djailani | Selasa, 5 September 2017 | 15:38 WIB
Damri Tekor Saban Tahun, Ini Kata Bosnya
(Foto: ilustrasi)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta -Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) merilis 24 BUMN yang mengalami kerugian di semester I-2017. Salah satunya Perum Damri. Ada apa?

Kerugian ini bukanlah kali pertama dialami perusahan transportasi darat pelat merah tersebut. Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Utama Perum Damri, Sarmadi Usman tidak menampik kerugian yang mendera perusahaanya.

Saat ditanya kenapa bisa berulang-ulang tekor? Dirinya enggan membeberkan jawaban. Bahkan berapa angka kerugiannya, ditutupnya rapat-rapat.

Sarmadi menjelaskan, Perum Damri berdiri di bawah dua Kementerian BUMN dan Kementerian Perhubungan (Kemenhub). Hal ini yang membuat Damri berdiri di atas dua sisi dengan dua arahan yang berbeda.

Sebagai perusahaan transportasi, bagaimana pun Damri harus melayani masyarakat dari satu tempat ke tempat lain dengan tarif yang terjangkau dibanding perusahaan transportasi swasta tentunya. Inilah sumber utama kerugian Damri setiap tahunnya.

"Yang merugi itu segmen perkotaan ini segmen penugasan dari Kemenhub, sepanjang semester I ini kita tidak dikasih subsidi oleh pemerintah, tapi kita diminta melayani masyarakat, sedangkan biaya operasional kita tidak dikasih, jadi kontribusi rugi itu meningkat," kata Sarmadi di Kantornya, Jakarta, Selasa (5/9/2017).

Meski merugi saban tahun, Sarmadi masih optimis, semester II, Perum Damri tidak akan merugi, meski biaya operasional tidak diberikan pemerintah. Kata dia segmen transportasi perkotaan ini merugi Rp150 juta setiap bulan.
"Meski Rp150 juta, yah berarti masuk kategori rugi yah, itu untuk angkutan perkotaan saja," ungkap Sarmadi.

Kata Sarmadi, kebutuhan biaya operasional Perum Damri untuk satu penumpang itu sekitar Rp8.500, namun harga karcis yang ditetapkan di perkotaan hanya sekitar Rp3.500. "Kalau di perkotaan kan harganya diatur oleh Pemda, di Jakarta misalnya, biaya operasional kita sekitar Rp8.500 tapi karcis kita hanya Rp3.500, yah kita rugi," kata dia. [uji]

 
x