Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Selasa, 19 September 2017 | 18:31 WIB

Di Balik HET Beras, Enggar Pertimbangkan Inflasi

Oleh : - | Rabu, 6 September 2017 | 00:29 WIB
Di Balik HET Beras, Enggar Pertimbangkan Inflasi
(Foto: Inilahcom)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Masuk triwulan terakhir, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita harap-harap cemas dengan inflasi. Dia berharap bisa ditekan serendah mungkin. Makanya aturan pembatasan harga gencar dikeluarkan.

Enggartiasto mengaku sangat berharap tingkat inflasi hingga akhir 2017, bisa terjaga. Untuk memastikan hal ini, instrumen Harga Eceran Tertinggi (HET) beras kelas medium dan premium, harus dijalankan. "Dengan adanya HET itu betul-betul mengendalikan. Kontribusi beras itu besar (terhadap inflasi)," kata Enggartiasto di Jakarta, Selasa (5/9/2017).

Kata Enggar, sapaan akrabnya, kemendag telah menetapkan HET untuk komoditas beras kualitas medium dan premium, melalui Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 57 Tahun 2017. Beleid ini bertujuan untuk menjaga kemampuan daya beli masyarakat serta mengerem laju inflasi.

Penetapan HET beras kualitas medium tersebut, untuk wilayah Jawa, Lampung, Sumatera Selatan, Bali, Nusa Tenggara Barat dan Sulawesi sebesar Rp9.450 per kilogram, dan Rp12.800 untuk jenis premium.

Wilayah Sumatera, tidak termasuk Lampung dan Sumatera Selatan, Nusa Tenggara Timur dan Kalimantan untuk beras kualitas medium Rp9.950 dan premium 13.300 per kilogram.

Sementara untu Maluku termasuk Maluku Utara dan Papua, HET beras kualitas medium sebesar Rp10.250 per kilogram dan Rp13.600 untuk beras jenis premium.

Enggartiasto mengatakan, pada akhir tahun memang akan ada kenaikan harga, namun tekanannya tidak seperti pada saat Ramadan dan Idul Fitri. Pemerintah sama sekali tidak ada kekhawatiran akan adanya lonjakan harga yang berarti hingga akhir 2017.

"November-Desember itu ada kenaikan, biasanya sedikit. HET sudah ada, tinggal suplai saja. Tidak ada kekhawatiran," ujar Enggartiasto.

Enggar berharap, September 2017 akan ada tambahan deflasi guna menjaga daya beli masyarakat. Pemerintah terus berupaya mengendalikan harga khususnya bahan pokok penting agar kebutuhan masyarakat terpenuhi.

"Saya harap September ada tambahan deflasi lagi. Semua pihak, baik Mentan menjaga suplai, KPPU dan Satgas Pangan mengawasi, sehingga deflasi terjadi," ujar politisi Nasdem ini.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kelompok bahan makanan sebagai penyumbang deflasi terbesar pada Agustus 2017. Dari 82 kota, 47 kota mengalami deflasi dan 35 kota mengalami inflasi.

Deflasi terjadi karena adanya penurunan harga yang ditunjukkan oleh turunnya beberapa indeks kelompok pengeluaran, yaitu kelompok bahan makanan sebesar 0,67% dan kelompok transpor, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,60%.

Sementara kelompok pengeluaran yang mengalami kenaikan indeks adalah kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau sebesar 0,26%, kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar sebesar 0,10%, kelompok sandang 0,32%, kelompok kesehatan 0,20%, dan kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga 0,89%.

Sementara tingkat inflasi tahun kalender periode Januari-Agustus 2017 tercatat 2,53%, dan tingkat inflasi tahun ke tahun (YoY) mencapai 3,82%. [tar]

 
Embed Widget

x