Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Selasa, 19 September 2017 | 18:26 WIB

Airlangga Minta BK Kakao 15%, Ekspor Bakal Rontok

Oleh : - | Rabu, 6 September 2017 | 06:09 WIB
Airlangga Minta BK Kakao 15%, Ekspor Bakal Rontok
Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto - (Foto: Inilahcom)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Kementerian Perindustrian ingin kebijakan bea keluar untuk biji kakao atau cokelat ditetapkan satu tarif alias flat. Agar industri pengolahan kakao dalam negeri tak kelabakan soal bahan baku.

"Kami berharap, dengan tarif flat dapat menjaga keseimbangan antara pajak yang dikenakan atas transaksi lokal maupun ekspor. Usulan ini akan kami bahas dengan Kementerian Keuangan," kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto di Jakarta, Selasa (5/9/2017).

Informasi saja, saat ini, pajak ekspor untuk biji kakao diterapkan progresif 0-15%, mengikuti perkembangan harga biji kakao dunia.

Airlangga menyampaikan gagasan tersebut saat membuka pameran dalam rangka Hari Kakao Indonesia (Cocoa Day) ke-6 di Jakarta. Dia meyakini, upaya tersebut mampu memacu produktivitas industri pengolahan kakao nasional.

Hal ini, lanjut politisi Golkar ini, sejalan dengan program pemerintah, yakni mendorong hilirisasi industri berbasis agro. Agar semakin meningkatkan nilai tambah di dalam negeri.

"Produk yang dihasilkan dari industri pengolahan kakao, antara lain cocoa cake, cocoa butter, cocoa liquor dan cocoa powder yang merupakan bahan baku pembuatan produk cokelat," sebut Airlangga.

Kemenperin mencatat, pada 2016, nilai ekspor produk cocoa cake mencapai US$155,2 juta, cocoa butter US$697,9 juta, dan cocoa liquor US$89,6 juta. "Sementara itu, nilai ekspor cocoa powder mengalami kenaikan 31,8 persen dari 2015 sebesar 124,3 juta dollar AS menjadi 163,9 juta dollar AS pada 2016," ungkap Airlangga.

Dikatakan, Indonesia berpotensi besar memiliki industri pengolahan kakao yang berdaya saing global, mengingat sebagai produsen biji kakao terbesar ketiga di dunia setelah Pantai Gading dan Ghana.

Saat ini, telah berdiri sebanyak 20 perusahaan pengolahan kakao di dalam negeri dengan kapasitas produksi mencapai 800 ribu ton per tahun.

Untuk mendukung tujuan tersebut, lanjut Airlangga, pihaknya telah memfasilitasi pembentukan unit-unit pengolahan industri kakao yang dapat menumbuhkan wirausaha baru skala kecil dan menengah. Selain itu, pelaksanaan program bantuan mesin dan peralatan pengolahan kakao.

"Bahkan, kami juga telah membangun Pusat Pengembangan Kompetensi Industri Pengolahan Kakao Terpadu di Kabupaten Batang, Propinsi Jawa Tengah yang bekerja sama dengan Universitas Gadjah Mada dan Pemerintah Kabupaten Batang," papar Airlangga.

Pusat Kompetensi itu diharapkan dapat dimanfaatkan oleh para pemangku kepentingan di sektor kakao sebagai tempat uji kompetensi sumber daya manusia di bidang produksi kakao, wahana pembelajaran yang berbasis riset dan inovasi, serta mendorong petani kakao untuk dapat meningkatkaan kualitas dan produktivitasnya. [tar]

 
Embed Widget

x