Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Minggu, 19 November 2017 | 06:06 WIB

Komisi XI DPR Ragukan Pertumbuhan 2018 Bisa 5,4%

Oleh : M Fadil Djailani | Kamis, 7 September 2017 | 13:15 WIB
Komisi XI DPR Ragukan Pertumbuhan 2018 Bisa 5,4%
Anggota Komisi XI DPR asal Golkar, Sarmuji - (Foto: istimewa)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Mayoritas anggota Komisi XI DPR ragu dengan target pertumbuhan ekonomi yang dipatok 5,4% dalam RAPBN 2018. Angkanya dianggap terlalu berat.

Pendapat tersebut mengemuka dalam rapat kerja antara pemerintah dengan Komisi XI DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (7/9/2017). Rapat ini membahas asumsi dasar makro-ekonomi RAPBN 2018.

Hadir sebagai wakil pemerintah, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, Deputi Senior Bank Indonesia (BI) Mirza Adityswara, perwakilan Kementerian Bappenas dan perwakilan Lembaga BPS.

"Itu hanya bisa saya pahami target 5,4% apabila pemerintah dengan pertumbuhan sebesar itu adalah fokus kualitas pertumbuhan nya, bukan pertumbuhan itu sendiri," kata Anggota Komisi XI DPR asal Golkar, Sarmuji.

Anggota Komisi XI DPR asal Golkar Muhammad Misbakhun juga berpendapat senada. Bahwa, pertumbuhan ekonomi (growth) sebesar 5,4% hanya bisa terwujud apabila penerimaan pajak optimal. Jika pendapatan pajak jauh dari target maka jangan harap growth tinggi.

"Saya yakin 5,4% dasar pertimbangan yang harus didasarkan pertimbangan yang matang karena tahun ini adalah tahun keempat pemerintah Presiden Jokowi. Bukan hanya sudah melakukan apa tapi Mau melakukan apa," kata mantan politisi PKS ini.

"Nanti perlu didalami dan penguatan untuk membangun pasar. Saya percaya ada ruang yang dibangun bagaimana nanti pertumbuhan 5,4% ditopang penerimaan pajak yang kuat," tambah politisi asal Pasuruan, Jawa Timur ini.

Wakil Ketua Komisi XI DPR, Achmad Hafisz Tohir memandang skeptis pertumbuhan ekonomi pada 2018. Kata kader PAN ini, angka pertumbuhan 5,4% terlalu optimistis, jauh dari realistis. "Target tersebut sangat optimistis atau terlalu optimistis," kata adik Hatta Rajasa ini.

Selanjutnya Hafisz membandingkan target ekonomi 2016 yang gagal tercapai. Ironisnya, kegagalan itu justru mendorong tim ekonomi Jokowi mengerek tinggi target pertumbuhan.

Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani meyakinkan bahwa target pertumbuhan ekonomi 2018 sebesar 5,4%, sangat realistis. "Angka (5,4%) tersebut memang optimistis, namun tetap realistis," ujar Sri Mulyani.

Menurut Sri Mulyani, pencapaian target pertumbuhan ekonomi tahun depan didukung oleh kinerja pertumbuhan ekonomi domestik yang hingga kini relatif stabil dan cenderung menguat.

Guna mendukung target pertumbuhan ekonomi 2018, konsumsi rumah tangga pun diharapkan tumbuh 5,1%, mengendalikan inflasi sesuai target sebesar 3,5%.

Sementara itu, konsumsi pemerintah diproyeksikan dapat tumbuh 3,8% dengan fokus anggaran belanja yang makin efisien, konsisten dengan prioritas untuk menunjang pemberantasan kemiskinan, mengurangi kesenjangan, dan memperbaiki produktivitas ekonomi.

Dari sisi investasi, pemerintah menargetkan bisa tumbuh 6,3%. Hal itu didorong oleh keberlanjutan pembangunan proyek pembangunan proyek utama nasional serta berbagai kebijakan simplifikasi peraturan, percepatan, dan mempermudah kegiatan usaha serta proses bisnis yang dilakukan pemerintah.

Selanjutnya, kinerja ekspor pada tahun 2018 diharapkan bisa tumbuh 5,1%. Selain upaya peningkatan daya saing dan produktivitas secara terus menerus melalui belanja infrastruktur, pendidikan dan pelatihan untuk para pekerja, pemerintah akan mendorong ekspor melalui pengembangan pasar baru yang potensial, peningkatan peran UKM berorientasi ekspor, dan promosi destinasi wisata Indonesia.

Sementara impor akan difokuskan untuk stabilisasi dan pemenuhan kebutuhan prioritas seperti proyek infrastruktur, pangan, dan bahan baku dengan tetap memperkuat produksi dalam negeri.[ipe]

Komentar

 
Embed Widget

x