Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Senin, 23 Oktober 2017 | 11:24 WIB

Harga Cocok, Alasan 11 IPP Jual Listrik ke PLN

Oleh : Uji Sukma Medianti | Jumat, 8 September 2017 | 13:45 WIB
Harga Cocok, Alasan 11 IPP Jual Listrik ke PLN
Direktur Utama PLN, Sofyan Basir - (Foto: inilahcom)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - PT PLN (Persero) berhasil menggaet 11 pengembang pembangkit listrik/Independent Power Producer (IPP) untuk melakukan Perjanjian Jual Beli Listrik (PJBL) dengan total kapasitas 291,4 Megawatt (MW) setelah tertunda pada awal Agustus lalu.

Diakui Direktur Utama PLN, Sofyan Basir, hal ini lantaran IPP telah menghitung ulang Biaya Pokok Penyediaan Pembangkit (BPP) dan sudah cocok dengan Permen ESDM Nomor 50 Tahun 2017 tentang Pemanfaatan Sumber Energi Terbarukan Untuk Penyediaan Tenaga Listrik.

"Ada beberapa yang hari ini menandatangani, mungkin mereka menghitung ulang dan sudah cocok angkanya," kata Sofyan di Kementerian ESDM Jakarta, Jumat (8/9/2017).

Sebelumnya, pada 10 Agustus lalu, pemerintah telah melakukan revisi kedua Peraturan Menteri (Permen) ESDM Nomor 12 Tahun 2017 menjadi Permen ESDM Nomor 50 Tahun 2017 tentang Pemanfaatan Sumber Energi Terbarukan Untuk Penyediaan Tenaga Listrik. Hal ini dilakukan guna menark investasi listrik dbidang EBT.

Dalam beleid itu, ada penambahan ketentuan mengenai Pembangkit Listrik Tenaga (PLT) Air Laut dan perubahan ketentuan mengenai pembelian tenaga listrik dari pembangkit listrik yang memanfaatkan sumber energi terbarukan yang hanya dilakukan melalui mekanisme pemilihan langsung.

Permen ESDM 50/2017 juga mengatur perubahan formula harga pembelian tenaga listrik dari PLTS Fotovoltaik, PLTB, PLTBm dan PLTBg dalam hal BPP Pembangkitan di sistem ketenagalistrikan setempat sama atau di bawah rata-rata BPP Pembangkitan nasional, harga patokan pembelian tenaga listrik semula sebesar sama dengan BPP Pembangkitan di sistem ketenagalistrikan setempat, menjadi ditetapkan berdasarkan kesepakatan para pihak.

Sedangkan untuk PLTP, PLTA dan PLTSa, formula harga dilakukan secara B to B untuk wilayah Jawa, Bali dan Sumatera dan maksimum BPP setempat untuk wilayah lainnya.

"Pengusaha itu bisa berbicara, saya ingin untung besar sekali, untung besar, atau untung sedang. Mari berhitung," terang Sofyan.

Dengan direvisinya beleid itu, Sofyan menyebut pengusaha jangan berhitung jangka pendek saja. Sebab bisnis penyediaan listrik merupakan bisnis jangka panjang dengan kontrak 25 tahun.

"Mari berbicara bisnis 25 thun ke depan. Bagaimanapun kepentingan masyarakat harus dipertimbangkan dengan baik. Ujung dari ini adalah tarif kepada masyarakat yang dapat terjangkau oleh masyarakat," ungkapnya. [fdl]

Komentar

 
Embed Widget

x