Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Jumat, 15 Desember 2017 | 07:47 WIB

HGI: Penetapan TMA Gambut Perlu Kajian Bersama

Oleh : - | Sabtu, 9 September 2017 | 12:12 WIB
HGI: Penetapan TMA Gambut Perlu Kajian Bersama
(Foto: Istimewa)
facebook twitter

INILAHCOM, Palangkaraya - Stake holders sawit merencanakan penelitian bersama terkait penetapan tinggi muka air tanah (TMA) 0,4 meter di bawah permukaan gambut pada titik penaatan, batas kriteria baku kerusakan gambut,

"Pro dan kontra masih terjadi. Banyak pihak mempertanyakan karena hasil penelitian dilakukan pada hutan primer dan bukan kawasan gambut budidaya. Padahal, penetapan TMA 0,4 m sebagai kriteria kerusakan gambut yang tertuang pada PP 57/2016 ditetapkan pada kawasan budidaya gambut," kata Ketua Himpunan Gambut Indonesia (HGI) Supiandi Sabiham di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, Jumat (8/9/2017).

Supiandi berpendapat, kajian yang tidak apple to apple tersebut, seharusnya tidak menjadi dasar penetapan regulasi gambut.
"Para pemangku kepentingan sepakat untuk melakukan penelitian bersama tinggi muka air di kawasan budidaya yang hasilnya bisa lebih relevan sebagai dasar penetapan TMA," kata Supiandi.

Pernyataan senada dikemukakan Nina Yulianti, dosen Fakultas Kehutanan Universitas Palangkaraya. Kata dia, hasil penelitian bersama sejumlah pihak termasuk pakar gambut Prof hidenori Takahashi dari Universitas Hokkaido Jepang seharusnya tidak menjadi dasar penetapan kriteria kerusakan gambut.

"Tinggi muka air 0,4 m seharusnya hanya menjadi indikator peringatan dini (early warning) adanya hotspot dan bukan sebagai dasar penetapan kriteria kerusakan gambut,"kata Nina.

Pakar gambut IPB Basuki Sumawinata mengatakan, penelitian Universitas Hokkaido terkait titik penaatan 0,4 m tidak bisa menjadi dasar penetapan kriteria kerusakan gambut karena dilakukan pada dua tempat berbeda.

Pengukuran 0,4 m dilakukan pada hutan alam di Centrop UPR di Sabangau, Kalteng. Sedangkan penentuan hotspot dilakukan di Dadahup. Korelasi saja sudah janggal, sehingga ada kesalahan dalam mengambil kesimpulan.

Penelitian ini tidak bisa menjadi dasar untuk penetapan Peraturan Pemerintah (PP). "Ketika TMA di Sabangau turun lebih 0,4 m, maka hotspot di Dadahup kemungkinan bisa mencapai 1 meter dan mengakibatkan gambut kering dan mudah terbakar," kata Basuki.

Bahkan, kata Basuki, ketika Universitas Hokkaido melakukan penelitian di Labotorium alam hutan gambut (LAHG) Cimtrop UPR di Sabangau, lokasi penelitiannya terbakar beberapa kali karena tinggi muka air sulit diatur.

"Jadi definisi Kriteria kerusakan lahan gambut di kawasan budidaya dengan titik penaatan 0,4 m hingga saat ini tidak mempunyai dasar yang jelas. Gambut di hutan alam saja bisa turun lebih dari 0,4 m," kata dia.[tar]

Komentar

 
x