Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Senin, 25 September 2017 | 00:43 WIB

7 BUMN Ini Masih Tetap Sakit Meski Telah Disuntik

Oleh : M Fadil Djailani | Rabu, 13 September 2017 | 00:29 WIB
7 BUMN Ini Masih Tetap Sakit Meski Telah Disuntik
(Foto: istimewa)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menjelaskan 7 BUMN yang kedapatan rugi setelah mendapat suntikan dana melalui Penyertaan Modal Negara (PMN).

Deputi bidang Restrukturisasi dan Pengembangan Usaha Kementerian BUMN, Aloysiius Kiik Ro mengungkapkan ada sekitar 7 BUMN yang mendapat PMN tapi tetap merugi.

Adapun 7 BUMN tersebut antara lain PT Dok Perkapalan Surabaya, PT Dirgantara Indonesia (DI), PT PAL, PT Perkebunan Nusantara (PTPN) X, PTPN IX, PTPN VII, dan PTPN III. Ketujuh BUMN tersebut mengalami rugi bersih pada 2016.

Pertama, PT Dok Perkapalan Surabaya kata Aloy pangilan akrabnya mengatakan, perusahaan pembuatan kapal tersebut mendapatkan suntikan PMN sebesar Rp200 miliar untuk pengadaan floating dock 8.500 TLC dan modernisasi peralatan kerja.

Sayangnya, kata Aloy perusahaan tersebut mengalami kerugian bersih yang meningkat, dari Rp48,83 miliar menjadi Rp81,54 miliar. Ini adalah tahun ke-4 PT Dok Perkapalan mengalami kerugian.

"Pendapatan cenderung menurun. Begitu pula dengan nilai aset dan ekuitas juga terus menurun," kata Aloy di Kementerian BUMN, Jakarta, Selasa (12/9/2017).

Kedua lanjut Aloy adalah BUMN PT Dirgantara Indonesia yang memperoleh PMN sebesar Rp400 miliar, untuk pengembangan pesawat program maritim, peningkatan fasilitas perakitan pesawat dan pendukungnya, peningkatan kemampuan dan kapasitas aircraft service, serta peningkatan modal kerja.

Namun, nasib Dirgantara sama saja dengan Dok Perkapalan yang mengalami rugi bersih sekitar Rp271,2 miliar pada 2016 atau naik dari tahun 2015 yang sebesar Rp50,52 triliun.

Kerugian ini diakibatkan karena nilai kurs yang sangat tidak stabil, sehingga berdampak pada kerugian perusahaan pesawat terbang tersebut.

"Alasan operasional karena adanya kerugian selisih kurs yang sangat signifikan, nilai penjualan tidak mencapai target RKAP dan beban keuangan akibat masih menanggung extended LC, dimana barang produksi tidak terkirim tepat waktu," kata dia.

Selanjutnya ketiga adalah PT PAL, dimana PMN yang diperoleh sebesar Rp1,5 triliun untuk pembangunan kapal selam meliputi Sumber Daya Manusia (SDM) dan fasilitas serta peralatan. BUMN perkapalan ini mengalami rugi bersih Rp395,22 miliar atau naik dari tahun 2015 yang sebesar Rp187,24 miliar.

Sedangkan keempat adalah untuk PTPN X, kelima PTPN IX, keenam PTPN VII, dan ketujuh PTPN III yang menerima PMN masing-masing sekitar Rp97,5 miliar, Rp100 miliar, Rp17,5 miliar, dan Rp3,1 triliun. Namun keempat BUMN perkebunan tersebut justru mengalami kerugian masing-masing Rp155 miliar, Rp304 miliar, Rp546 miliar, dan Rp1,3 triliun. [uji]

 
x