Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Minggu, 19 November 2017 | 06:08 WIB

Berkah Program PIR Trans PT SAL-2

Karena Sawit, Biaya Kuliah S2 di UGM Aman

Oleh : - | Kamis, 14 September 2017 | 03:29 WIB
Karena Sawit, Biaya Kuliah S2 di UGM Aman
(Foto: inilahcom)
facebook twitter

INILAHCOM, Bungo - Transmigran di Dusun Karya Harapan Mukti, Kabupaten Bungo, Jambi memilih berkebun kelapa sawit. Potensi ekonomi si emas hitam ini sungguh menjanjikan. Berguna untuk biaya sekolah anak.

Adalah Ngadimun, pria kelahiran Magelang, Jawa Tengah, sosok petani sawit yang sukses. Kini, dirinya ini mampu membiayai pendidikan S-2 anaknya di UGM, Yogyakarta. "Ya, anak saya sedang kuliah S2 di UGM. Dia ambil jurusan politik, bukan pertanian. Ya, enggak apa-apa. Orang tua kan ingin anaknya bisa sekolah tinggi," papar Ngadimun.

Ceritanya, pada era 90'an, Ngadimun memutuskan menjadi transmigran swakarsa. Jatah lahan seluas 3,5 hektar dimanfaatkan untuk menanam padi, jagung,wit kedelai dan ubi. Namun, hasilnya hanya cukup buat makan.

Merasa tak puas, Ngadimun banting setir menanam sawit melalui program Perkebunan Inti Rakyat (PIR) Trans yang diinisiasi PT Sari Aditya Loka (SAL)-2, anak usaha PT Astra Agro Lestari (AALI) pada 1992. Tiga tahun kemudian, kehidupan pria yang kini berusia 61 tahun ini, berubah seratus delapan puluh derajat.

Kini, kebun sawit Ngadimun beranak pinak menjadi 10 hektar. Mau tahu berapa penghasilannya per bulan? Minimal bisa 7 ton per dua minggu, atau 14 ton sebulan. Kalau saat ini harga sawit diasumsikan Rp1.600 per kilogram, maka setara dengan Rp22,4 juta per bulan. Pendapatan itu belum termasuk kebun Salak Pondoh yang tumbuh subur di lahannya. Luar biasa.

Nasib sama dialami HM Baqin, transmigran asal Ngawi, Jawa Timur. Anggota Badan Pengawas KUD Karya Mukti, Dusun Karya Harapan Mukti, Pelepat Ilir, Kabupaten Bungo, Jambi ini, kini bisa membangun rumah megah dan mapan. "Program PIR Trans dan KKPA (Kredit Koperasi Primer Anggota) dari PT SAL-2 cukup membantu kami," paparnya.

Sementara, Kepala Dusun Karya Harapan Mukti, Abdul Wahab mengatakan bahwa kesejahteraan para transmigran di daerahnya tak luput peran pemerintah dan swasta. Saat ini, petani sawit bisa mereguk tingginya harga sawit. "Sebelumnya, harga sawit sempat anjlok hingga Rp400 per kilogram. Ini membuat kami prihatin," tegas Wahab.

Ke depan, Wahab berharap adanya komitmen dari pemerintah dan swasta, khususnya dalam menjamin kesediaan bibit sawit unggulan, serta pelatihan pertanian yang mumpuni. "Ketika petani sawit kita makin maju maka makin sejahteralah daerah kami. Tentu saja ini bisa berkontribusi terhadap perekonomian daerah dan nasional," kata Wahab. [ipe]

Komentar

 
x