Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Jumat, 24 November 2017 | 21:55 WIB

India Kerek Bea Masuk, Ekspor CPO RI Dalam Bahaya

Oleh : - | Kamis, 14 September 2017 | 06:39 WIB
India Kerek Bea Masuk, Ekspor CPO RI Dalam Bahaya
(Foto: Istimewa)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Pemerintah India berencana menaikkan bea masuk dua kali lipat untuk minyak mentah sawit (Crude Palm Oil/CPO). Kalau jadi, Indonesia bakal kehilangan pasar yang signifikan.

"Selain pasar yang besar, India juga bukan pasar yang rewel menuntut berbagai macam kriteria keberlanjutan seperti Eropa atau Amerika. Sayang jika kita kehilangan pasar yang demikian potensial," kata Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), Joko Supriyono dalam Indonesia-India Business Forum on Palm Oil di Mumbai, Rabu (13/9/2017).

Forum Bisnis Indonesia-India ini merupakan pertemuan bisnis yang membahas berbagai isu, terkait perdagangan bilateral kedua negara khususnya minyak sawit. Acara dibuka Duta Besar RI untuk India, Sidharto Suryodiputro. Dihadiri Konjen Indonesia di Mumbai, Saut Siringo ringo.

Sekedar informasi, Agustus lalu Kementerian Keuangan India mengumumkan rencana penaikan bea masuk CPO menjadi 15%. Sebelumnya, tarif bea masuk CPO hanya 7,5%. Pajak impor minyak kelapa sawit olahan juga bakal dikerek menjadi 17,5% dan 25%, sebelumnya 12,5% serta 15%.

Dengan semakin tingginya bea masuk, Joko mengkhawatirkan terjadinya penurunan ekspor minyak sawit Indonesia ke India. Saat ini, Indonesia mencatat surplus neraca perdagangan dengan India. "Ini harus segera disikapi. Perlu diperkuat misalnya dengan perjanjian perdagangan bilateral sehingga isu-isu terkait tarif bisa dibahas dan disepakati secara komprehensif," kata Joko.

Sejak pemberlakuan pajak ekspor sawit di Indonesia, dalam lima tahun terakhir terjadi penurunan market share palm oil di pasar India dibandingkan soft oil. Jika pada 2011, palm oil menguasai 80% dan sisanya soft oil. Pada 2016 palm oil menguasai 70% market share, dan share soft oil naik menjadi 30%.

Walaupun secara volume ekspor Indonesia stabil, tapi market share terhadap soft oil turun. Artinya, pertumbuhan konsumsi di pasar India tidak bisa dimanfaatkan oleh Indonesia.

Jadi, benar kalau Joko sangat berharap. Bahwa pemerintah Indonesia perlu lebih serius dan segera membahas masalah ini melalui perundingan bilateral dengan India. [ipe]

Komentar

 
x