Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Senin, 23 Oktober 2017 | 11:23 WIB

Ekspor Minyak Sawit Terkerek Kendati Harga Nyusruk

Oleh : - | Jumat, 15 September 2017 | 20:00 WIB
Ekspor Minyak Sawit Terkerek Kendati Harga Nyusruk
(Foto: inilahcom)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Sepanjang Juli 2017 harga rata-rata minyak sawit global menurun 2,76%, atau dari US$681,30 turun menjadi US$662,50 per metrik ton.

Dalam rilis kepada media di Jakarta, Jumat (15/9/2017), Fadhil Hasan, Direktur Eksekutif Gabungan Industri Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), harga sepanjang Juli bergerak di kisaran US$650 hingga US$672,50 per metrik ton. Meski harga rendah, volume ekspor minyak sawit Indonesia mengalami kenaikan.

Di Juli 2017, volume ekspor minyak sawit (CPO dan turunannya) Indonesia membukukan peningkatan 2,4 juta ton. Angka ini menunjukkan kenaikan 13% dibandingkan Juni yang mencapai 2,13 juta ton.

Masih kata Fadhil, ekspor minyak Indonesia terkerek karena naiknya permintaan dari negara-negara Afrika dan China yang cukup signifikan. Sementara negara-negara Afrika membukukan kenaikan permintaan 54% pada Juli 2017 dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Atau dari 143,86 ribu ton meningkat menjadi 222,07 ribu ton.

"Sementara itu Negeri Tirai Bambu mencatatkan kenaikan permintaan 53% atau dari 109,08 ribu ton pada Juni meningkat menjadi 167,28 ribu ton di Juli," papar Fadhil.

Kenaikan permintaan minyak sawit dari Indonesia juga diikuti oleh Pakistan yang membukukan kenaikan 34%, atau dari 154,41 ribu ton di Juni naik menjadi 206,47 ribu ton di Juli. Harga yang murah menjadi salah satu alasan kenaikan impor minyak sawit oleh Pakistan.

Sementara di negara-negara Timur Tengah mencatatkan kenaikan permintaan sebesar 14%. Sebaliknya, India yang biasanya akan membeli banyak di saat harga sedang rendah, permintaan justru hanya stagnan. Stagnasi permintaan dari India akibat dari menumpuknya stock di dalam negeri minyak nabati
baik minyak sawit maupun kedelai.

Di mana para traders telah membeli partai besar pada bulan sebelumnya, sebagai langkah antisipasi dari pemerintah India yang akan menaikkan tarif impor minyak nabati.

Stagnasi permintaan juga dialami di negara-negara Uni Eropa, dimana permintaan hanya naik 1% di Juli ini dibandingkan dengan bulan sebelumnya.

Sebaliknya Amerika Serikat mencatatkan penurunan permintaan minyak sawit dari Indonesia sebesar 15%, atau dari 99,93 ribu ton di Juni, turun menjadi 84,61 ribu ton di Juli.

Beralih ke biodiesel, Juli ini, penyerapan biodiesel tercatat meningkat tajam yaitu 248%. Atau dari 41 ribu ton (Juni) naik menjadi 142 ribu ton (Juli). Peningkatan penyerapan ini terbilang normal, karena terjadi keterlambatan dalam penetapan tender penyaluran biodiesel.

Dari sisi produksi, kata Fadhil, sepanjang Juli 2017, produksi minyak sawit Indonesia mencapai 3,75 juta ton. Atau naik 13% dibandingkan dengan sebelumnya yang hanya mencapai 3,33 juta ton. "Produksi meningkat karena efek El Nino 2016 sudah selesai," kata Fadhil.

Dengan produksi yang baik dan ekspor yang tidak terlalu tinggi berefek pada peningkatan stok minyak sawit di dalam negeri yang mencapai 2,72 juta ton, atau naik 17% dibandingkan Juni 2017.

Dari sisi harga, sepanjang Agustus 2017, harga harian CPO global menunjukkan tren kenaikan dibandingkan dengan Juli. Di mana, harga bergerak di kisaran US$652.50-US$ 695 per metrik ton dengan harga rata-rata US$ 676 per metrik ton. [ipe]

Komentar

 
x