Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Selasa, 24 Oktober 2017 | 12:56 WIB

Industri Tumbuh Pesat, Perang Harga Sawit Mencuat

Oleh : Iwan purwantono | Sabtu, 16 September 2017 | 12:12 WIB
Industri Tumbuh Pesat, Perang Harga Sawit Mencuat
Ketua Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Provinsi Jambi, Tidar M Bagaskara - (Foto: istimewa)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Pesatnya pertumbuhan industri pengolahan kelapa sawit di daerah, ternyata membawa dampak buruk juga. Perang harga di kalangan industri guna mendapatkan bahan baku sawit tak terhindarkan.

Demikian pernyataan Ketua Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Provinsi Jambi, Tidar M Bagaskara kepada wartawan di Kabupaten Bungo, Kamis (14/9/2017), mengakui bahwa industri sawit berlomba-lomba untuk mendapatkan sawit.

"Memang ada sesuatu yang kurang elok dari geliat industri sawit ini. Yaitu, terjadi perang harga TBS. Ke depan, harus ada sistem yang baik sehingga tidak ada yang dirugikan, semuanya untung," papar Tidar.

Saat ini, kata Tidar, sebagian pabrik sawit di Kabupaten Bungo, tidak memiliki area perkebunan. Sehingga mereka harus membeli langsung dari petani. Petani atau kelompok yang terikat dengan sistem plasma, boleh dibilang sudah tidak adalagi.

"Dan, aturan moratorium lahan dari pemerintah membuat industri sulit bergerak. Kalau di Jambi sendiri jumlah industrinya 186 perusahaan. Jadi, mereka tak bisa berekspansi lagi," kata Tidar.

Masalah krusial lainnya adalah soal replanting atau peremajaan. Saat ini, usia sawit di Jambi didominasi pohon uzur. Sehingga mendesak untuk dilakukan replanting. Hanya saja, petani perlu dana besar untuk replanting.

Saat ini, lanjut Tidar, lahan sawit di Jambi yang dikelola petani memiliki porsi terbesar yakni 65%. Sisanya yang 35% dikelola perusahaan. "Kalau tidak replanting maka produksi sawit bakal menurun terus. Jadi, perlu tanaman baru untuk menggantikan yang sudah tua. Ujung-ujungnya memengaruhi ketersediaan bahan baku," jelas Tidar.

Terkait janji Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) Kelapa Sawit untuk membantu replanting, dinilai Tidar, belum jelas. Saat ini, petani sawit banyak yang mempertanyakan program bantuan replanting sebesar Rp25 juta/hektar. "Sampai sekarang kok belum jelas? Dari BPDP Sawit enggak ada pengarahan. Terus terang ini meresahkan petani sawit di daerah kami," tuturnya. [ipe]

Komentar

 
x