Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Selasa, 24 Oktober 2017 | 12:47 WIB

KLHK Bentuk Tim Khusus Demi Kelestarian Badak Jawa

Oleh : - | Senin, 18 September 2017 | 13:45 WIB
KLHK Bentuk Tim Khusus Demi Kelestarian Badak Jawa
(Foto: Istimewa)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Kepala Balai Taman Nasional (TN) Ujung Kulon Mamat Rahmat, mengungkapkan, dalam rangka menjaga kelestarian satwa Badak Jawa, Balai TN Ujung Kulon membentuk tiga tim khusus, yaitu Rhino Monitoring Unit (RMU), Rhino Protection Unit (RPU), dan Resource Based Management (RBM).

"Ketiga tim ini memiliki fokus-fokus khusus. RMU fokus kepada monitoring populasi dan kondisi badak, RPU fokus kepada upaya perlindungan dan pengamanan badak dari gangguan, serta RBM menjalankan pengamanan berbasis wilayah dan lintas wilayah," jelasnya.

Baik tim RMU dan RPU dipimpin oleh para pegawai fungsional TN Ujung Kulon, dan beranggotakan masyarakat. Hal ini merupakan bentuk kolaboratif bersama masyarakat dan sebagai bentuk pemberdayaan masyarakat sekitar.

Menurut Mamat, sifat Badak Jawa yang cenderung soliter merupakan salah satu kendala dalam kegiatan inventarisasi dan monitoring, sehingga dalam habitatnya sendiri, satwa ini sulit dijumpai secara langsung.

Mamat juga menambahkan bahwa sejak tahun 1967 hingga 2008, metode monitoring populasi Badak Jawa sangat sederhana, yaitu dengan jejak kaki badak dan beberapa jenis temuan lainnya, seperti kotoran, urine, bekas tumbuhan yang dimakan, dan bekas gesekan pada batang pohon.

"Saat ini, monitoring sudah dapat dilakukan dengan teknik video trap, sejak tahun 2011 dan 2012, sebanyak 40 kamera video otomatis dengan sensor gerak, telah dipasang pada lokasi-lokasi yang sering dikunjungi Badak Jawa", lanjutnya. Hingga tahun 2017, monitoring telah menggunakan kurang lebih 100 kamera video trap.

Sementara itu, berdasarkan hasil identifikasi tahun 2012, ditemukan minimal 51 individu Badak Jawa (29 jantan dan 22 betina), kemudian di tahun 2013 ditemukan minimal 58 individu (33 jantan dan 25 betina). Selanjutnya di tahun 2014, diketahui jumlah minimal 57 individu, dan di tahun 2015 jumlah Badak Jawa minimal 63 individu.

"Untuk jumlah terakhir perkiraan populasi Badak Jawa sampai saat ini, nanti akan kami sampaikan di tanggal 22 September mendatang saat perayaan Hari Badak Sedunia", pesan Dr. Mamat.

Ia juga memaparkan, menyongsong Hari Badak Sedunia pada 22 September, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) akan melaksanakan puncak peringatan di TN Ujung Kulon, Banten, sebagai salah satu lokasi warisan dunia yang memiliki satu-satunya jenis Badak Jawa di dunia.

Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus Desmarest, 1822), merupakan spesies paling langka di antara lima spesies badak yang ada di dunia, lainnya yaitu Badak Putih, Badak Hitam, Badak Sumatera, dan Badak India. Dari lima jenis tersebut, hanya dua badak yang memiliki cula satu yaitu Badak India dan Badak Jawa, lainnya memiliki dua cula.

Keberadaan cula ini pulalah yang menjadi keunikan sekaligus ancaman bagi kelestarian badak. Sejak lama cula telah menjadi incaran para pemburu, karena dipercaya memiliki khasiat sebagai obat tradisional yang mujarab untuk berbagai penyakit, serta sebagai dekorasi yang bernilai sangat tinggi. Begitu berharganya sebuah cula Badak Jawa, sehingga peringatan Hari Badak Sedunia nanti akan mengambil tema "Di Ujung Cula Badak Jawa".

Langkanya keberadaan satwa Badak Jawa, mengakibatkan satwa ini dikategorikan sebagai critically endangered dalam daftar Red List Data Book, oleh International Union for Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN). Selain itu, Badak Jawa juga terdaftar dalam Apendiks I Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES), sebagai jenis yang jumlahnya sangat sedikit di alam dan dikhawatirkan akan punah, serta ditetapkan sebagai jenis satwa dilindungi, berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Tumbuhan dan Satwa Liar. [*]

Komentar

 
x