Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Sabtu, 18 November 2017 | 06:03 WIB

Perusahaan Konstruksi China Ini Siap Atasi Backlog

Oleh : - | Selasa, 19 September 2017 | 00:39 WIB
Perusahaan Konstruksi China Ini Siap Atasi Backlog
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Perusahaan konstruksi, China Huaqing Housing Holding Co Ltd, siap membantu pembiayaan serta pembangunan perumahan di Indonesia. Agar kekurangan perumahan (backlog) sebesar 11,4 juta unit bisa digerus.

Hal tersebut disampaikan Direktur Huaqing Housing Holding Co Ltd, Chunyu Zhu usai penandatanganan nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) dengan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) di Kantor Bappenas, Jakarta, Senin (18/9/2017).

"Untuk kali ini, kami datang justru karena adanya kekurangan perumahan 11 juta sekian itu. Setelah penandatanganan MoU ini, kami akan secepatnya merealisasikan pembangunan untuk kekurangan perumahan tersebut dengan teknologi yang kami punya," ujar Zhu.

Huaqing sendiri merupakan perusahaan yang sudah berpengalaman mengerjakan berbagai proyek perumahan pegawai negeri sipil dan militer, pembangkit listrik, kawasan industri, jembatan, jalan tol, pelabuhan, bandara, dan proyek infrastruktur lainnya, baik di Tiongkok maupun di luar negeri seperti di Rusia, Nigeria, Myanmar, Australia dan negara-negara lainnya.

Di Nigeria, Huaqing telah memiliki rekam jejak membangun perumahan rakyat dan pegawai negeri yang terjangkau di mana sudah dapat membangun rumah dengan luas 84 m2 sampai 120 m2 dengan biaya mulai dari US$2.000 sampai US$30.000 dengan menggunakan sistem yang diklaim lebih kuat yakni tahan api dan tahan gempa, yang disebut Assembly Building System (ABS) Construction Technology ".

"Teknologi ABS ini di China merupakan hasil dari penelitian dari TsingHua University selama 20 tahun sehingga mendapatkan teknik untuk membangun rumah yang cepat, murah, dan kuat atau tahan lama. Dan ini tahan lamanya tidak hanya 10-20 tahun, tapi bisa sampai 50-100 tahun. Tahan angin, tahan panas, tahan api, dan gempa sampai dengan 9 Skala Richter," kata Zhu.

Zhu menuturkan, teknologi ABS tersebut sebenarnya telah diaplikasikan di negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Kanada, dan Jepang. Namun harganya yang sangat tinggi membuat teknologi tersebut tidak bisa diimplementasikan di negara lain yang penduduknya banyak. Ia mengklaim, pihaknya bisa membangun perumahan menggunakan material hasil penelitian tersebut dengan biaya yang rendah.

Kendati demikian, Zhu tidak menyebutkan secara detil nominal investasi yang akan dikucurkan perusahaan Tiongkok tersebut ke Indonesia. Namun, nilai investasi yang akan masuk diperkirakan mencapai US$20 miliar untuk berbagai proyek pembangunan.

"Dalam tahun ini, kami akan merealisasikan sebagai prototype sebanyak 100 unit. Dalam kurun waktu tiga bulan, kami akan kembali untuk menjalankan program-programnya. Itu tergantung dari pemerintah, Bappenas, terkait tempat yang dituju atau ditunjuk untuk dibangun di mana," ujar Zhu. [tar]

Komentar

 
x