Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Sabtu, 21 Oktober 2017 | 21:11 WIB

Darmin Ingin Kian Banyak Instrumen Investasi

Oleh : M Fadil Djailani | Rabu, 20 September 2017 | 13:54 WIB
Darmin Ingin Kian Banyak Instrumen Investasi
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution - (Foto: inilahcom)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengharapkan munculnya instrumen keuangan lainnya sebagai sumber pembiayaan untuk membangun proyek infrastruktur kelistrikan Indonesia, selain sekuritisasi Efek Beragun Aset (EBA).

"Kita perlu mengembangkan instrumen-instrumen lain sebagai sumber pembiayaan yang sudah berkembang di berbagai negara, tetapi kita (Indonesia) belum pernah melaksanakannya," katanya saat menghadiri sekuritisasi Efek Beragun Aset (EBA) PT Indonesia Power (IP) sebagai anak perusahaan PT Perusahaan Listrik Negara di ursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (20/9/2017).

Produk tersebut dengan nama EBA Danareksa Indonesia Power PLN 1 - Piutang Usaha (EBA DIPP1). Pelaksanaan EBA ini mengikuti sekuritisasi aset yang telah dilakukan BUMN sebelumnya yaitu PT Jasa Marga.

Darmin juga berharap, nantinya sekuritisasi aset ini akan digunakan sebagai salah satu sumber pendanaan guna mendukung megaproyek ketenagalistrikan 35.000 Megawatt (MW).

Pada tahap pertama ini, nilai EBA ditawarkan sebesar Rp4 triliun. Penerbitan EBA DIPP1 ini seiring dengan rencana strategis IP untuk melakukan sekuritisasi EBA senilai Rp10 triliun, yang akan dilakukan secara bertahap hingga akhir tahun 2018.

"Mengenai sekuritisasi ini, sebenarnya sudah lama dipersiapkan. Kita betul berbahagia, skema EBA ini yang kedua dilakukan di lingkungan Kementerian BUMN. Pertama, Jasamarga kemudian Indonesia Power," ungkapnya.

Hadir dalam acara tersebut Menteri Badan Usaha Milik Negara, Rini Soemarno, Direktur Utama PT PLN (Persero), Sofyan Basir, Direktur Utam PT Indonesia Power, Sripeni Inten Cahyani, Direktur Utama Bursa Efek Indonesia, Tito Sulistio dan pihak terkait lainnya.

Sepanjang penawaran yang berlangsung mulai tanggal 4-11 September 2017, EBA DIPP1 mendapatkan respons positif dari kalangan investor. Hal ini ditandai dengan sekuritisasi aset keuangan IP mengalami kelebihan permintaan hingga 2,7x yaitu mencapai Rp10,05 triliun dari target Rp4 triliun.

Namun demikian, Darmin mendorong munculnya instrumen keuangan lainnya sebagai sumber pembiayaan untuk membangun proyek infrastruktur kelistrikan Indonesia.

Dari sisi investor, investasi pada EBA akan memberikan return yang kompetitif dengan mengestimasikan cash flow. Instrumen ini menjadi alternatif investasi pada instrument keuangan serta kebutuhan pengembalian pokok yang cepat terutama dengan struktur amortisasi pokok.

Untuk negara, prestasi penerbitan sekuritisasi EBA-DIPP merupakan bukti barometer keberterimaan pasar modal investor di Indonesia. [hid]

Komentar

 
x