Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Sabtu, 18 November 2017 | 06:02 WIB

Jumlah Hotspot 2017 Turun, Kalimantan Meningkat

Oleh : - | Jumat, 22 September 2017 | 13:40 WIB
Jumlah Hotspot 2017 Turun, Kalimantan Meningkat
(Foto: Istimewa)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Raffles B Pandjaitan mengatakan, jumlah hotspot pada 2017 masih lebih rendah dibandingkan tahun 2016.

"Berdasarkan data satelit NOAA sampai saat ini terpantau sejumlah 2.076 titik, dan menurun sebanyak 1.126 titik (35,16%), dibandingkan tahun sebelumnya, yaitu 3.202 titik. Sedangkan data TERRA AQUA (NASA) (confidence level di atas 80%), menurun 1.967 titik (57,04%), dari semula 3.448 titik di 2016, menjadi 1.481 titik," jelasnya, Jumat (22/9/2017).

Jumlah hotspot khususnya di Kalimantan Barat mengalami kenaikan. Data satelit NOAA Rabu (20/9/2017) pukul 20.00 WIB, menunjukkan terpantau 39 titik hotspot, dengan rincian 24 titik di Kalimantan Barat, 7 titik di Bangka Belitung 7 titik, 3 titik di Jawa Barat, dan 1 titik masing-masing di Jawa Timur, Jawa Tengah, Lampung, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Timur.

Hotspot di Kalimantan Barat juga terpantau cukup tinggi berdasarkan satelit TERRA AQUA (NASA) confidence level 80, yaitu sebanyak 12 titik dari total 22 hotspot yang terpantau. Sedangkan dari total 62 hotspot yang terpantau satelit TERRA AQUA (LAPAN) confidence level 80%, 46 di antaranya berada di provinsi tersebut. Adapun penyebaran hotspot lainnya terdapat di Bangka Belitung, Jawa Barat, Jawa Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, dan Sumatera Selatan.

Menanggapi peningkatan hotspot di Kalimantan Barat, Raffles berpendapat, hal ini dapat disebabkan aktivitas pembukaan lahan yang dilakukan pada waktu bersamaan, meskipun terdapat batasan-batasan dalam pelaksanaannya. "Di Kalimantan Barat masih menganut kearifan lokal dengan sebutan 7 (tujuh) T, yaitu Tebas, Tebang, Tunu, Tugal, Tanam, Tuai dan Tinggal," ujar Raffles.

Beberapa aturan kearifan lokal tersebut, antara lain diawali dengan acara adat, penyiapan sesajen, keharusan membuat sekat bakar (jika melanggar dan terjadi kebakaran, dikenakan sanski adat), penggunaan Lemang (ketan dalam bambu) sebagai ukuran keberhasilan pembakaran, pembakaran dilakukan perorangan ataupun bersama kerabat, serta sebagian besar pembukaan lahan agar dilaksanakan di areal tanah mineral.

Raffles juga mengungkapkan, berdasarkan hasil temuan di lapangan, masyarakat sudah mulai memilih metode pengolahan lahan dengan bantuan traktor dan teknologi pertanian lainnya.

Sementara itu, berdasarkan Prediksi Sistem Peringkat Bahaya Kebakaran (SPBK) tanggal 21 September 2017, pada umumnya provinsi-provinsi di Pulau Sumatera, Pulau Kalimantan, Pulau Jawa, Pulau Sulawesi, Nusa Tenggara, dan Papua, berada dalam kondisi sangat mudah terbakar. "Informasi prediksi SPBK ini harus menjadi perhatian agar dapat diantisipasi adanya potensi karhutla terutama di daerah-daerah tersebut," tegas Raffles. [*]

Komentar

 
x