Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Sabtu, 21 Oktober 2017 | 21:01 WIB

DPR: Penggunaan E-Money di Pintu Tol Bukan Solusi

Oleh : - | Sabtu, 23 September 2017 | 12:13 WIB
DPR: Penggunaan E-Money di Pintu Tol Bukan Solusi
Anggota Komisi V DPR Sukur Nababan - (Foto: Istimewa)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Mulai Oktober ini, pengguna tol wajib menggunakan uang elektronik (e-money) atau transaksi non-tunai di gerbang tol. Tujuannya untuk mencegah kemacetan. Efektifkah?

Anggota Komisi V DPR Sukur Nababan mengaku tak yakin kalau kewajiban transaksi non-tunai bisa menekan kemacetan di jalan tol. "Saya enggak yakin tuh. Transaksi non-tunai bikin mobil lancar masuk tol. Sehingga jumlahnya kendaraan meningkat drastis. Alhasil, kemacetan parah justru di sepanjang tol, sulit dihindari," papar Sukur di Jakarta, Jumat (22/9/2017).

Selanjutnya, kader PDIP ini mengingatkan bahwa kendaraan yang melintas haruslah sesuai dengan filosofi jalan tol sebagai jalan bebas hambatan. "Jadi, jangan hanya fokus di gerbang tol saja. Justru pengaturan di sepanjang jalan tol lebih penting," papar Sukur.

Sukur menyebut ruas tol Semanggi sebagai salah satu contoh jalan tol di ibu kota yang tak pernah bebas dari kemacetan. Dirinya mengaku heran dengan masih banyaknya truk atau kendaraan berat melintasi tol menimbulkan kemacetan. "Seharusnya diaturlah kalau truk atau kendaraan berat, tak boleh masuk tol saat jam-jam sibuk. Jadi tol bisa benar-benar bebas hambatan," tegas Sukur.

Masih kata anak buah Megawati ini, sosialisasi terkait kewajiban transaksi non-tunai di gerbang tol, haruslah optimal dan efektif. "Bisa melalui kerja sama dengan media, iklan di jalan-jalan. Sosialisasi di lembaga pemerintah, pelaku usaha, dan seluruh elemen masyarakat," paparnya.

Sukur mendesak pemerintah untuk membangun transportasi massal yang aman dan nyaman. Sehingga, masyarakat lebih tertarik menggunakan transportasi umum ketimbang kendaraan pribadi. "Kalau itu terjadi, jumlah kendaraan pribadi yang lalu lalang bisa semakin rendah. Akan signifikan dalam mengentaskan kemacetan di mana-mana, termasuk di jalan tol," pungkas Sukur.

Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi menegaskan, pembayaran tol dengan uang elektronik alias e-money, bisa mengatasi kemacetan di pintu masuk tol. "2018 sudah selesai semuanya karena memang sangat kita butuhkan sekali untuk mendapatkan suatu kecepatan antrian bisa teratasi dengan baik," tutur Budi di Jakarta Convention Centre, Jakarta, Rabu (6/9/2017).

Budi mengakui, saat ini, penyediaan gardu tol non-tunai belum sepenuhnya rampung. Masih ada beberapa gardu yang masih menerima pembayaran tunai. "Seperti yang disepakati kita akan mulai sekarang," kata Menhub Budi.

Direktur Operasi I Jasa Marga, Mohammad Sofyan bilang, sebanyak 1.150 jalan tol milik Jasa Marga, 47% siap melakukan pembayaran sistem non-tunai. Perusahaan akan terus mempercepat kesiapan berbagai infrastruktur agar dapat beroperasi 100% pada Oktober 2017.

Herry Trisaputra Zuna, Kepala Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) mengakui, pengguna uang elektronik di gerbang tol (GT) belum signifikan. Buktinya, antrian hingga 2 kilometer masih terlihat di GT Cibubur 2. "Memang ada peningkatan penggunaan uang elektronik di lapangan, tapi enggak besar sih," kata Herry.

Hingga Agustus 2017, kata Herry, penggunaan uang elektronik di GT seluruh Indonesia, hanya 31%. Padahal, Herry mengklaim sudah melakukan sosialisasi secara masif. Tapi, pengguna e-money kok masih rendah juga. [tar]


Komentar

 
x