Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Senin, 23 Oktober 2017 | 11:16 WIB

RI Siap Kirim 8 Juta Ton Sawit Lestari ke Eropa

Oleh : - | Senin, 25 September 2017 | 17:50 WIB
RI Siap Kirim 8 Juta Ton Sawit Lestari ke Eropa
Togar Sitanggang, Sekretaris Jenderal Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) - (Foto: Istimewa)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Uni Eropa kemungkinan menerapkan syarat ketat yakni standar keberlanjutan untuk produk minyak sawit yang masuk. Peluang pasarnya sangat menggiurkan. Hingga 2020, Eropa perlu 6juta ton minyak sawit.

Togar Sitanggang, Sekretaris Jenderal Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) bilang, certified sustainable palm oil (minyak sawit berkelanjutan yang telah tersertifikasi) yang disyaratkan Uni Eropa, bukanlah masalah bagi produk sawit Indonesia.

"Kami siap memasok, bukan saja 6 juta ton, tapi 8 juta ton minyak sawit lestari ke pasar Eropa," kata Togar dalam Festival Colorful Indonesia di Paris Prancis, rilis kepada media di Jakarta, Senin (25/9/2017).

Selain Togar, hadir pula sebagai pembicara dalam kegiatan yang digagas Kedutaan Besar RI di Paris ini, Sekjen Apkasindo (Asosiasi Petani Kelap Sawit Indonesia) Rino Afrino.

Togar mengatakan, Indonesia mampu memenuhi permintan pasar Eropa tersebut. Dengan catatan, minyak sawit yang tersertifikasi ISPO (Indonesian Sustainable Palm Oil) juga bisa diterima oleh negara-negara Uni Eropa. "Menerima sertifikasi ISPO berarti mengakui kredibilitas pemerintah Indonesia. Karena sertifikasi ISPO adalah standar wajib yang diberlakukan oleh pemerintah RI," kata Togar.

Saat ini, kata Togar, Uni Eropa yang terdiri dari 27 negara, merupakan pasar minyak sawit terbesar kedua setelah India. Berdasarkan data GAPKI (2016), penjualan minyak sawit ke Uni Eropa mencapai 6,6juta ton. Pasar terbesar minyak sawit terbesar dunia adalah India sebesar 10,25juta ton.

"Sedangkan China di peringkat ketiga sebesar 5,15juta ton. "Dan Indonesia tetap mengukuhkan diri sebagai produsen minyak sawit terbesar dunia dengan produksi tahun lalu 33,4 juta ton," kata Togar.

Dalam kesempatan tersebut, Togar juga menjelaskan isu deforestasi yang dialamatkan kepada sektor perkebunan kelapa sawit Indonesia. "Deforestasi yang dilakukan oleh kelapa sawit Indonesia adalah deforestasi status. Mengubah status hutan menjadi APL (area penggunaan lain), di mana areal hutan tersebut kebanyakan sudah tidak punya pohon lagi. Pohon-pohon sudah ditebang oleh pemegang izin HPH sebelumnya," katanya.

Togar juga memaparkan, ekspansi perkebunan soyabean juga lebih masif dibandingkan kelapa sawit. Dalam tiga tahun terakhir, ekspansi perkebunan soyabean di dunia mencapai 8 juta hektar. Sedangkan, ekspansi perkebunan kelapa sawit hanya 6,4 juta hektar.

"Dan di Indonesia sudah tidak ada lagi ekspansi perkebunan kelapa sawit karena pemerintah masih memberlakukan kebijakan moratorium yang sudah berjalan lima tahun lebih," kata Togar. [tar]

Komentar

 
x