Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Senin, 20 November 2017 | 00:55 WIB

Menteri Bambang Jelaskan Alasan Bisnis Ritel Jatuh

Oleh : M Fadil Djailani | Selasa, 26 September 2017 | 16:08 WIB
Menteri Bambang Jelaskan Alasan Bisnis Ritel Jatuh
Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas, Bambang Brodjonegoro - (Foto: Inilahcom)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas, Bambang Brodjonegoro memiliki pandangan sendiri terkait fenomena banyaknya bisnis ritel yang harus tutup lantaran kalah bersaing.

Salah satunya adalah kebiasaan masayarakat golongan atas yang lebih gemar berbelanja di luar negeri, seperti Singapura dan Hong Kong. "Karena orang Indonesia banyak ke sana (Singapura-Hong Kong, untuk kuliner kemudian belanja, belanja yang tinggi di sana mempengaruhi ritel di Indonesia," tutur Bambang di Jakarta, Selasa (26/9/2017).

Selain itu Bambang bilang perubahan pola konsumsi masyarakat Indonesia yang saat ini lebih gemar berbelanja lewat online juga mempengaruhi bisnis ritel itu sendiri. "Anak-anak kita di rumah, belanja baju melalui online. Tapi survei menunjukan mal menengah ke atas tumbuh, tapi untuk model ITC, Tanah Abang, Roxi, sepi karena barang-barangnya bisa dicari dionline," kata mantan Menteri Keuangan ini.

Menurut Bambang, kondisi mal yang sepi juga dipengaruhi perubahan gaya hidup masyarakat. Dahulu kunjungan ke mal dijadikan sebagai wahana rekreasi. Tetapi sekarang dialihkan ke tempat wisata di daerah dijadikan tempat berlibur.

"Dulu itu rekreasi ya belanja, sekarang orang banyak ke tempat wisata rekreasinya, ini terlihat dari konsumsi hotel, restoran, serta jasa wisata yang meningkat," ucap Bambang.

Sedangkan untuk supermarket ataupun hypermarket yang mengalami penurunan kinerja, menurut Bambang, karena masyarakat lebih memilih toko-toko ritel yang dekat rumah dalam memenuhi kebutuhan rumah tangga, seperti sikat gigi, pasta gigi, dan lain-lainnya. "Saya lihat convenience store itu bertumbuh, tapi satu sisi yang punya hypermatket ataupun supermarket menurun," kata Bambang. [hid]

Komentar

 
x