Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Sabtu, 21 Oktober 2017 | 21:04 WIB

Penerimaan Migas Jeblok, Jonan tak Bisa Apa-apa

Oleh : Uji Sukma Medianti | Jumat, 29 September 2017 | 02:49 WIB
Penerimaan Migas Jeblok, Jonan tak Bisa Apa-apa
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan - (Foto: inilahcom)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan menyebutkan harga minyak dunia menjadi salah satu faktor terkuat penyebab menurunnya penerimaan terhadap negara.

"Menurunnya penerimaan negara dari sektor energi dan sumber daya mineral (ESDM) hal tersebut banyak faktor, salah satunya adalah menurunnya harga minyak secara global," kata Menteri ESDM Ignasius Jonan di Jakarta, Kamis (28/9/2017).

Berdasarkan data dari Kementerian ESDM, pada tahun 2014 penerimaan dari sektor ini dari Migas sebesar Rp320,25 triliun, kemudian dari Energi Baru Terbarukan (EBT) sebesar Rp0,75 triliun dan Mineral, batubara Rp35,40 triliun. Sehingga totalnya mencapai Rp356,4 triliun.

Sedangkan pada 2015, total jenderal penerimaan negara mencapai Rp153,03 triliun. Atau menurun Rp203,37 triliun. Selanjutnya pada 2016, totalnya turun lagi menjadi Rp111,97 triliun.

Tahun ini, hingga September penerimaan naik di angka Rp118,69 triliun. Dipastikan ada kenaikan sampai akhir 2017 dibanding 2016.

Capaian tertinggi pada 2014 disebabkan karena harga minyak mentah dunia menembus level US$89,08 per barel. Sedangkan pada 2017, banyak pengamat menilai rata-rata harga minyak mentah dunia adalah pada kisaran US$50 sampai US$55 per barel.

Faktor lainnya, selain harga minyak mentah dunia, yang membuat tren penurunan penerimaan negara dari sektor ESDM adalah upaya pemerintah untuk berusaha manaikkan tarif royalti. Hal tersebut untuk merangsang investasi di dunia usaha migas.

Di samping berusaha untuk menggenjot hasil produksi migas dan EBT, Jonan menyampaikan Kementerian ESDM sedang memfokuskan pada kualitas hasil migas, agar dapat diserap pasar dengan baik.

Kata Jonan, pada 2017, target produksi minyak sebesar 815.000 barel per hari (bph). Dalam kenyataannya, rata-rata produksi hanya 800.000 bph. "Kalau sampai akhir tahun, menurut saya outlook-nya masih di bawah 815.000 barel per hari, itu kalau untuk minyak," kata Jonan. [ipe]

Komentar

 
x