Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Selasa, 24 Oktober 2017 | 12:43 WIB

Sulitnya Kesepakatan IA-CEPA, Aussie Banyak Maunya

Oleh : - | Selasa, 3 Oktober 2017 | 04:39 WIB
Sulitnya Kesepakatan IA-CEPA, Aussie Banyak Maunya
bendera Indonesia dan Australia berkibar - (Foto: Ilustrasi)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Merumuskan kerja sama dagang memang bukan perkara mudah. Termasuk Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA-CEPA), memasuki putaran 9.

Menteri Perdagangan, Enggartiasto Lukita bilang, tim perunding Indonesia dan Australia, perlu mengoptimalkan perundingan, agar bisa segera rampung sesuai target yakni akhir 2017.

"Delegasi Indonesia dan Australia harus dapat mengoptimalkan waktu yang ada untuk mencapai kesepakatan-kesepakatan yang konkret dan dapat diimplementasikan, sehingga hasil perundingan ini dapat bermanfaat bagi kedua negara," kata Enggar, sapaan akrabnya dalam rilis kepada media di Jakarta, Senin (2/10/2017).

Dalam Perundingan IA-CEPA putaran ke-9 yang digelar di Jakarta pada 2-6 Oktober 2017, Enggar mengingatkan bahwa perundingan ini harus dimaknai sebagai upaya bersama dalam menciptakan masa depan bersama yang lebih baik. Dengan saling melengkapi, bukan saling bersaing.

"Saat Bapak Presiden memberi arahan agar menyelesaikan perundingan IA-CEPA pada tahun ini, beliau bersungguh-sungguh. Dua kata kunci yang kerap disampaikan terkait perundingan ini adalah keterbukaan dan daya saing," tambah Enggar.

Putaran ke-9 ini merupakan kelanjutan perundingan putaran ke-8 yang berlangsung di Canberra pada 31 Juli-4 Agustus 2017. Dalam perundingan putaran ke-9 ini, delegasi Indonesia dipimpin Deddy Saleh dan Delegasi Australia dipimpin Trudy Witbreuk.

Deddy mengatakan, Australia meminta agar tarif bea masuk untuk sapi bakalan, dihapuskan saja. Kalau disepakati, kedua negara akan menjalankan kerja sama dengan konsep economic power house. Yakni kerja sama perdagangan yang tidak hanya menyasar pasar masing-masing negara, namun membidik pasar di negara lain.

Dicontohkan, apabila tarif bea masuk sapi menjadi nol, maka volume impor sapi dari Australia bakal bertambah. Namun, daging sapi tersebut tidak diperuntukkan untuk konsumsi. Tapi diolah terlebih dahulu, selanjutnya diekspor ke negara lain.

Hanya saja, opsi bea masuk sapi bakalan nol persen ini, kata Deddy, masih dalam pembahasan. Sejauh ini, belum ada kesepakatan dari kedua belah pihak. Selain sapi, Australia meminta bea masuk nol persen untuk sejumlah komoditas, termasuk susu skim. Di tanah air, susu skim diolah menjadi susu kental manis yang selanjutnya diekspor ke sejumlah negara lain di Asia.

Selanjutnya Trudy membandingkan dengan Malaysia. Negeri jiran ini juga mengolah susu skim menjadi susu kental manis, sudah menerapkan bea masuk nol persen. Akibatnya, susu kental manis Malaysia lebih berdaya saing.[tar]

Komentar

 
x