Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Senin, 23 Oktober 2017 | 11:24 WIB

Pertumbuhan Ekonomi RI, Kabar Baik dari World Bank

Oleh : - | Rabu, 4 Oktober 2017 | 01:09 WIB
Pertumbuhan Ekonomi RI, Kabar Baik dari World Bank
(Foto: ilustrasi)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Bank Dunia membawa angin segar bagi perekonomian nasional, pasalnya lembaga keuangan yang berpusat di New York Amerika Serikat tersebut memperidiksi ekonomi Indonesia tetap kuat dan dapat tumbuh optimistis pada kisaran 5,1% pada 2017 dan 5,3% pada 2018.

"Ekonomi Indonesia masih dapat tumbuh lebih optimistis," kata Kepala Perwakilan Bank Dunia di Indonesia Rodrigo Chaves dalam peluncuran Laporan Ekonomi Triwulan terbaru di Jakarta, Selasa (3/10/2017).

Chaves mengatakan faktor yang mendukung ekonomi untuk tumbuh lebih optimal adalah lingkungan eksternal yang kondusif, faktor fundamental ekonomi yang kuat, serta kemajuan dalam reformasi struktural.

"Basis dari ekonomi Indonesia untuk tumbuh adalah reformasi kebijakan yang baik, permintaan domestik yang kuat dan kontribusi dari lingkungan eksternal," ujarnya.

Chaves menambahkan konsumsi rumah tangga akan tumbuh menguat dan memberikan kontribusi kepada ekonomi, seiring dengan kenaikan upah riil dan peningkatan jumlah lapangan kerja.

Selain itu, investasi swasta juga mendapatkan manfaat dari penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia yang berdampak pada penurunan biaya pinjaman, perbaikan lingkungan bisnis dan investasi publik dalam sektor infrastruktur.

Menurut Chaves, pembangunan infrastruktur menjadi penting karena telah memberikan dampak positif kepada sektor investasi sejak triwulan IV-2015.

"Infrastruktur yang lebih baik dan lebih terencana akan membantu Indonesia meningkatkan pertumbuhan serta pemerataan kemakmuran bagi lebih banyak masyarakat," tuturnya.

Laporan Ekonomi Triwulan Bank Dunia ini juga memaparkan berbagi risiko eksternal yang dapat mengganggu proyeksi yaitu ketidakpastian dari normalisasi kebijakan moneter Bank Sentral AS (The Fed), perlemahan harga komoditas dan kebijakan perdagangan yang proteksionis dari negara maju.

Risiko lainnya berasal dari sisi domestik yaitu pelaksanaan reformasi struktural yang tidak konsisten, sehingga bisa berdampak negatif pada perkiraan pertumbuhan ekonomi, karena Indonesia pada 2018 mulai memasuki tahun politik. [tar]

Komentar

 
x