Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Senin, 23 Oktober 2017 | 11:03 WIB

Holding Ambisius Menteri Rini di Tutup Tahun

Oleh : - | Jumat, 6 Oktober 2017 | 09:43 WIB
Holding Ambisius Menteri Rini di Tutup Tahun
Menteri BUMN Rini Soemarno - (Foto: inilahcom)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Soal holding BUMN sektor migas (minyak&gas bumi) serta tambang, Menteri BUMN Rini Soemarno punya target ambisius. Semuanya harus rampung tahun ini. Khusus sektor migas wajib kelar bulan depan.

Dalam pertemuan dengan media di Plaza Mandiri, Jakarta, Kamis malam (5/10/2017), Rini mengatakan, holding migas dan tambang, merupakan dua sektor yang masuk prioritas, harus rampung tahun ini.

Di mana, tahapan harmonisasi dengan kementerian terkait, serta pembahasan melalui focus group discussion (FGD) internal antarperusahaan, sudah dilalui. Jadi, realisasi holding tinggal menunggu penyelesaian administrasi.

"Holding sekarang harmonisasi saya harap cepat, tetapi dokumen memakan waktu. Kami harap November selesai semua. Semua tidak ada masalah, hanya administrasi saja," kata Rini.

Adapun holding BUMN migas meliputi Pertamina sebagai induk dan Perusahaan Gas Negara (PGN). Sedangkan holding BUMN tambang terdiri dari PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) sebagai induk, dan beranggotakan perusahaan lainnya, yakni PT Bukit Asam (Persero) Tbk, PT Timah (Persero) Tbk, dan PT Aneka Tambang (Persero) Tbk.

Rini mengaku telah mempersiapkan Budi Sadikin sebagai Direktur Utama PT Inalum yang akan memimpin holding pertambangan. Inalum akan menjadi induk dari holding BUMN tambang, mengingat 100% sahamnya masih dimiliki negara.

Rini menilai pembentukan holding ini akan memperkuat perusahaan-perusahaan BUMN tanpa membebani negara. Meski perusahaan BUMN telah mendapat suntikan modal melalui penyertaan modal negara (PMN), BUMN berhasil membagi dividen kepada negara.

"Tiap tahun pun BUMN memberikan dividen pada negara. Tahun 2015, 2016 sampai 2017, secara total dividen yang diberikan pada negara Rp113 triliun. Bila tahun 2018 ditambah, totalnya menjadi Rp160 triliun," kata Rini.

Rini menambahkan, sinergi yang kuat dari pembentukan holding juga akan menciptakan efisiensi dalam kegiatan operasional dan biaya produksi dapat ditekan.

"Kalau sekarang ini, batu bara melakukan penambangan sendiri, investasi sendiri, Antam melakukan hal yang sama. Diharapkan dengan sinergi ini, kita dapat satukan alat-alat berat sehingga cost production, bisa turun," kata Rini. [tar]

Komentar

 
x