Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Selasa, 24 Oktober 2017 | 12:39 WIB

Warisan Djarot Soal LPG 3Kg, Perlu Gerakan Moral

Oleh : - | Jumat, 6 Oktober 2017 | 13:45 WIB
Warisan Djarot Soal LPG 3Kg, Perlu Gerakan Moral
Gubernur DKI Djarot Saiful Hidayat - (Foto: inilahcom)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Sebentar lagi, Gubernur DKI Djarot Saiful Hidayat memasuki masa pensiun. Namun, Gubernur Djarot mewarisi peraturan positif terkait penggunaan elpiji 3Kg (subsidi) untuk masyarakat tak mampu.

Ya, Gubernur DKI ini menelorkan seruan No 6/2017 tentang Pelarangan bagi PNS/CPNS serta masyarakat mampu di wilayah DKI Jakarta menggunakan elpiji bersubsidi. Artinya, elpiji bersubdisi hanya untuk rakyat miskin.

Agar legacy ini tak menguap, Brando Susanto, Korwil Pengusaha Elpiji Rayon DKI Jakarta, mengingatkan perlunya gerakan moral bersama untuk mengawalnya. Sehingga, beleid ini segera tersosialisasi dan terealisasi di 44 kecamatam se-DKI Jakarta.

"Seruan Gubernur ini tidak hanya langkah yang berani tapi juga menjadikan pelayan publik (PNS DKI Jakarta) teladan di masyarakat. Karena semangat pelarangan menggunakan elpiji bersubsidi berarti secara langsung Pak Gubernur Djarot memberi kesempatan warga miskin mendapatkan kesempatan lebih besar untuk menerima subsidi elpiji" ujar Brando di Jakarta, Jumat (6/10/2017).

Kata Brando, pengaturan distribusi elpiji 3 kilogram atau sering disebut melon, memang tidak mudah. Karena, awalnya, pemerintah pusat hanya berniat mengganti konsumsi minyak tanah (konversi) di masyarakat. Sehingga penggunaan energi bisa lebih ramah lingkungan serta lebih murah.

Setelah program konversi berjalan 10 tahun, sambung Brando, hasilnya cukup sukses. Walau belakangan muncul masalah baru yakni jatah subsidi elpiji membengkak Rp40 triliun.

Selain itu, kata Brando, ada masalah lain yakni belum diperbaharuinya Permen ESDM No 26/2009 yang mengatur harga jual Pertamina dan masyarakat yang berhak menerima subsidi. "Terkait Permen ESDM ini banyak pihak menyarankan agar disparitas harga elpiji bersubsidi dengan non subsidi jangan terlalu jauh," kata Brando.

"Tingkat penyimpangan penggunaan elpiji di masyarakat akan selalu besar bila perbedaan harga terlalu besar antara yang Subsidi dan Non Subsidi. Idealnya harga di masyarakat utk yg 3kg itu Rp25.000 hingga Rp30.000, mendekati harga per kg untuk kemasan non subsidi 5.5kg dan 12kg," tambah Donny Arnaldi, Wakil Ketua Hiswana Migas DKI Jakarta bidang Elpiji.[tar]

Komentar

 
x